LTT 2015

Jubilee Indonesia.

Go make desciple

Jubilee Indonesia.

LTT 2015

Jubilee Indonesia.

We are Jubilee

Jubilee Indonesia.

Heaven or hell?

Jubilee Indonesia.

Showing posts with label Jubilee Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Jubilee Indonesia. Show all posts

Monday, 24 November 2014

Terus Beritakan Injil, Hidup di Dalamnya, dan Setia

Terus Beritakan Injil, Hidup di Dalamnya, dan Setia 

Berbicara tentang Kerajaan Sorga dan panggilan kita itu tidak bisa dibayar murahan.  Saudara tidak bisa membayar harganya kalau hanya setengah hati.  Dengan seperti itu, Saudara bisa saja kandas di tengah jalan.  Namun apabila Saudara bertekun di dalam firman, terus hidup di dalamnya, dan memberitakan Injil kerajaan sorga di mana-mana maka itu yang membuat Saudara diselamatkan.  Paulus saja sampai berkata “celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil”.  Berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus terus disampaikan kepada seluruh makhluk.  Setelah itu barulah kesudahannya.  Kalau kita tidak terus memberitakan Injil, kita bisa menjadi serupa dengan dunia ini.  Jangan mengkonsumsi apa yang dari dunia, tapi konsumsilah hal-hal kerajaan sorga sehingga kita bisa merebut jiwa-jiwa di dunia ini.  Kita harus terus fokus terhadap panggilan yang Tuhan beri.
Ada 3 hal yang harus kita lakukan supaya kita terus hidup di dalam panggilan Tuhan:
1.  Berita pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan.
Kalau hal ini tidak lagi mengalir dari dalam kita maka kita harus berseru,
berdoa, bahkan berpuasa supaya gairah untuk memberitakan Injil keluar
lagi.  Mari kita kembali mengingat ketika kita awal bertobat dan dilahirkan kembali.  Bukankah kita mau memberitakan Injil tanpa disuruh?  Sekarang ke mana gairah itu?  Apakah pekerjaan, sekolah, kuliah yang menghalangi kita?  Dan apakah alasan-alasan itu diterima oleh Tuhan?  Renungkan perumpamaan tentang 5 gadis bodoh dan 5 gadis bijaksana.  5 gadis bodoh tahu tujuannya, tetapi mereka terlambat sehingga mereka akhirnya ditolak oleh mempelai prianya.  Kita harus waspada dengan hal-hal seperti ini.  Jangan merasa sudah tahu segalanya.
“…Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”  (Matius 4:17).  Inilah isi Injil yaitu supaya orang masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Kalau Saudara tidak bergairah lagi tentang ini, bagaimana Saudara mau memberitakannya?  Saudara pasti akan memberitakan yang lain.  Semua orang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan, tapi kalau pemberita-pemberitanya sudah tidak mengutamakan dan memikirkan yang lain, ya bagaimana?  Kerajaan Sorga sudah dekat dan Saudara adalah pemberita-pemberitanya.  Jangan sampai kita menukarkan Kerajaan Sorga dengan kesuksesan yang ditawarkan oleh dunia.  
Di Matius 3:1-2 Yohanes Pembaptis juga memberitakan tentang Kerajaan Sorga sudah dekat, tapi mari kita lihat tentang Yesus Kristus.  Dalam Kisah Para Rasul 1:1-3 dikatakan bahwa Yesus itu hidup.  Menurut Saudara apakah Yesus betul-betul hidup atau mati?  Mungkin dulu Saudara pernah beriman bahwa Yesus hidup, tapi apakah sekarang Yesus tetap hidup dalam Saudara?  40 hari setelah Yesus bangkit, Ia terus memberitakan tentang kerajaan Tuhan.  Hal ini juga yang harus terus kita minta kepada Tuhan secara pribadi maupun saat bersama-sama.  Kerajaan Sorga itu tidak hanya dekat, tapi Kerajaan Sorga ada di dalam kita.  Jika kita masuk ke dalamnya maka kita harus membayar harganya dan menyerahkan hidup kita seluruhnya.  
Selanjutnya tentang Paulus dalam Kisah Para Rasul 28:30-31.  Dia terus memberitakan Injil dan itu juga yang harus kita lakukan.  Dalam ayat itu diceritakan bahwa Paulus menyewa rumah sendiri dan menerima semua orang yang datang kepadanya.  Hal ini Paulus lakukan untuk berita Injil, bukan yang lain.  Paulus berbicara tentang Injil dengan terus terang, artinya tidak ada maksud tersembunyi yang ditujukan hanya untuk dirinya sendiri.  Pemberitaan Injil ini tugas siapa?  Tugas kita.  Kesadaran ini harus kita tingkatkan di dalam diri kita supaya kita tidak tersesat dengan pesona dunia ini.  Jaga berita ini supaya jangan berlalu begitu saja.  Semua orang harus mendengarnya.  Pastikan mereka tidak hanya mendengar, tapi juga menjadi bagian di dalamnya.
2.  Kita wajib hidup di dalamnya.
Kita tidak hanya memberitakan, tapi juga hidup di dalamnya.  Paulus berkata, “celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil karena waktu aku memberitakan Injil bisa-bisa aku sendiri ditolak”.  Jadi Injil bisa menolak kita meskipun kita sudah memberitakannya.  Di 1 Korintus 9:27 dikatakan kita harus menguasai seluruhnya, ini bicara tentang fokus.  Jadi kita tidak cukup memberitakan Injil saja, tapi masih ada syarat lain yaitu jangan kita sendiri ditolak setelah kita memberitakan Injil.  Lalu bagaimana bisa hidup di dalam Injil dan terus?  Ya kita harus menjadi murid.  Kalau hanya memberitakan saja kita seperti seorang “calo”.

“Calo” Injil hanya bisa memberitakan Injil, tapi tidak hidup di dalamnya.  Saudara harus memberi diri untuk menjadi murid.  Dalam Lukas 14:25-27 judul perikopnya adalah segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikut Yesus.  Kita harus lepaskan kalau mau betul-betul menerima mahkota kemenangan Tuhan.  Di ayat itu diceritakan banyak orang berduyun duyun mengikuti perjalanan Yesus.  Hati-hati dengan kata-kata di ayat ini.  Perjalanan di sini adalah perjalanan fisik, bukan perjalanan roh karena mereka cenderung mencari enaknya saja.  Diikuti orang yang hanya mencari enaknya saja,  itu malah menjadi beban.  Waktu itu, Yesus ingin mencari orang-orang yang lebih sungguh-sungguh lagi, bukan sekedar yang mau ikut-ikutan.  Dan syaratnya yaitu sampai nyawa sendiri pun harus dilepaskan karena kalau tidak maka ia tidak dapat menjadi murid Yesus.  Kemudian ia harus memikul salib dan mengikut Yesus.  Ini merupakan syarat selanjutnya setelah segala sesuatu dilepaskan.  Hal ini seperti sebuah penyeleksian dimana tidak ada kompromi.  Semakin tinggi tingkatannya maka syarat-syaratnya pun akan semakin tinggi.
Kalau sikap hati kita tidak terus berpegang pada syarat-syarat itu maka kita bisa dicemooh orang (Lukas 14:28-33).  Hidup kita pasti diperhatikan orang, tapi jangan takut dan berusaha menyelamatkan diri kita sendiri.  Jangan gunakan kekuatan kita sendiri.  Tuhan sudah menyediakan kekuatan yang berlimpah-limpah.  Mari pastikan kemenangan kita.  Jangan sampai kalah.  Jika kita kalah, kita akan menanggung penderitaan berkali-kali lipat termasuk diperbudak.  Oleh karena itu, jangan sembrono dalam mengambil keputusan-keputusan penting.  Kita perlu pemuridan.  Tanamkan dalam diri kita masing-masing “aku mau jadi murid Kristus”.
3.  Kita harus tetap setia.
Dalam 2 Timotius 2:1 judul perikopnya panggilan untuk ikut menderita.  Maksud menderita di sini yaitu menderita dalam pemberitaan tentang pertobatan dan pengampunan dosa.  Di ayat tersebut, kita dipanggil anak berarti Tuhan benar-benar fokus kepada kita.  Seorang bapa pasti lebih fokus kepada anaknya sendiri daripada yang lain.  Namun sebagai anak ada saat di mana kita juga diuji oleh bapa.  Hanya saja seorang bapa pasti tidak menginginkan kematian anaknya ketika anaknya diuji.  Kemudian di situ dikatakan jadilah kuat oleh kasih karunia berarti kita harus tambahkan kekuatan kita dengan kasih karunia.  Bukan tambahkan dengan sakit hati atau kekecewaan, tapi dengan kasih karunia.  Peperangan yang kita jalani semakin kuat dan kuasa kita harus lebih kuat dalam kita oleh kasih karunia itu.  Untuk menjadi kuat oleh kasih karunia prosesnya yaitu ikutlah menderita sebagai seorang prajurit (2 Tim 2:2-4).  Kalau tidak ikut menderita bisa-bisa kita tidak sampai pada keselamatan yang kekal.  Kita harus terus dalam perjuangan dan tidak memusingkan soal-soal penghidupan.  Tidak memusingkan bukan berarti tidak diperhatikan, tapi jangan sampai pusing memikirkan soal-soal penghidupan.  Ingat, sebagai prajurit kita mempunyai komandan dan seorang prajurit harus fokus komandannya yang memberi komando.
Kemudian, kita juga harus mengikuti aturan mainnya seperti olahragawan (2 Tim 2:5).  Jika kita ingin menjadi juaranya kita harus mengikuti aturan mainnya.  Tuhan terus memperhatikan kita, tapi kita harus terus berjuang supaya menjadi juaranya.  Selanjutnya kita juga perlu bertekun seperti seorang petani (2 Tim2 :6).  Kalau kita bertekun pasti ada hasil.  Meskipun sedikit, tapi pasti ada.  Perhatikan, renungkan, camkan, Tuhan akan memberimu pengertian dalam segala hal (2 Tim 2:7).  Kadang kita salah, kita belum berperang, belum menabur, belum berlatih, tapi kita sudah minta banyak pengertian.  Padahal waktu diberi pengertian belum tentu kita bisa melakukan dalam prakteknya.  Yang jelas, pengertian itu diberikan supaya kita terus melangkah.  Tuhan menyediakan pengertian waktu kita taat.  Percayalah Tuhan pasti memberi pengertian.
Injil keselamatanlah yang harus diberitakan, bukan injil-injil yang lain karena semua orang harus diselamatkan (2 Tim 2:8-10).  Namun sekarang pertanyaannya, mengapa firman Tuhan seolah-olah terbelenggu padahal Saudara tidak sedang dipenjara?  Ini yang kita perlu bertobat jika pemberitaan Injil tidak terus bekerja.  Paulus sabar menanggung semua penderitaan bagi orang-orang pilihan Tuhan.  Kalau Saudara mementingkan diri sendiri maka Saudara tidak akan pernah menjadi sabar.  Ini berbicara tentang memuridkan dan dimuridkan.
Waktu Saudara memuridkan, Saudara perlu sabar melihat buah-buah itu menjadi nyata.  Kita harus mau membayar harganya supaya keselamatan itu sampai kepada semua orang.  
Kita harus mati dengan Dia kalau kita mau bangkit bersama-sama dengan Dia (2 Tim 2:11-12).  Tidak pernah ada kebangkitan kalau tidak ada kematian.  Kemudian kita juga akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan.  Namun kita perlu bertekun karena untuk memerintah kita perlu hikmat pemerintahan dan itu harus belajar dengan ketekunan.  Selanjutnya, ini karakter yang harus kita pegang juga untuk menyelesaikan panggilan Tuhan yaitu kesetiaan (2 Tim 2:13).  Kesetiaan itu pasti diuji dalam penderitaan bahkan dalam menghadapi kematian.  Contoh kesetiaan bisa dilihat dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.  Walaupun mereka dimasukkan ke dalam dapur perapian, mereka tetap memilih untuk menyembah Tuhan.  Lalu Daniel, dia juga dimasukkan ke dalam kandang singa, tetapi dia tetap tidak mau menyimpang dari Tuhan.  Sekarang bagaimana dengan kesetiaan Saudara kepada Tuhan dan jemaat?  Kesetiaan terhadap pergerakan?  Kesetiaan dalam pemuridan?  Kesetiaan dalam pemberitaan Injil? Mari cek diri kita masing-masing.  Apakah berita Injil terus kita sampaikan dan kita terus hidup di dalamnya, dan setia?  Tanpa itu semua, kita tidak akan mencapai keselamatan yang kekal.


Khotbah:
Hosea Hartono
Jubilee Semarang

Kita Mempunyai Peperangan Yang Harus Dimenangkan

Kita Mempunyai Peperangan Yang Harus Dimenangkan 

Beberapa waktu ini saya dapat tentang spirit peperangan.  Mungkin dari Saudara ada yang bertanya, kita kan sekarang tidak sedang dalam peperangan.  Secara jasmani kita memang tidak ada peperangan, tapi kita harus punya spirit peperangan karena sebenarnya kita mempunyai musuh.  Sadarkah Saudara bahwa kita mempunyai musuh?  Mari kita baca Efesus 6:10-11.  Di ayat tersebut dikatakan “kenakanlah seluruh senjata”, tidak ada di ayat ini tertulis bahwa kita sudah menang.  Berarti masih ada peperangan yang harus kita menangkan.  Kita akan menang jika Tuhan datang untuk yang kedua kalinya karena waktu itu Dia akan menghukum musuh-musuh-Nya.  Selama kita masih hidup di dunia berarti keadaan kita masih di dalam peperangan karena musuh kita adalah Iblis (Ef 6:12).  Ini yang harus kita sadari.  Sayangnya banyak orang Kristen tidak sadar akan hal itu sehingga mereka terlarut dalam keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup.
Ada sebuah kutipan dari Patton: “We’re gonna keep fighting. Is that CLEAR? We’re gonna attack all night, we’re gonna attack tomorrow morning. If we are not VICTORIOUS, let no man come back alive!”  (Kita akan terus bertempur. JELAS? Kita akan terus menyerang sepanjang malam, kita akan menyerang besok pagi. Jika kita tidak MENANG, biarlah tidak ada orang yang kembali dengan hidup!).  Ini adalah suara dari seorang jenderal yang memimpin peperangan.  Kita di sini sedang dilatih untuk berperang dan untuk menjadi pemenang.  Kita bisa tahu teori berperang, tapi kalau tidak pernah berperang ya bagaimana?  Kita juga bisa tahu teori memberitakan Injil, tapi jika kita tidak pernah memberitakan Injil maka kita tidak akan pernah menjadi orang yang memenangkan jiwa.  Mari kita perhatikan.  Dulu kita lahir dari kampus, tapi lihatlah sekarang, mahasiswa di dalam jemaat sudah tinggal berapa?  Saya tidak melihat jumlah, tapi kita memang butuh orang untuk memenangkan jiwa.
Apakah kita orang-orang yang berani menyuarakan kebenaran di luar sana?  Untuk apa kita menjadi orang yang hanya berani berkoar-koar di dalam gereja?  Mari cek diri kita masing-masing, apakah kita sudah menjadi “veteran” perang?  Jika kita tidak bangkit maka kita akan tersiksa di sini karena kita mempunyai misi untuk memenangkan jiwa-jiwa.  Ini yang membuat kita bergairah yaitu kita terus memenangkan jiwa.  Kejatuhan gereja-gereja adalah ketika pemimpinnya sudah nyaman, sudah ada fasilitas sehingga ia merasa bukan waktunya lagi untuk bertempur.  Akhirnya yang terjadi orang-orang yang dipimpinnya mengalami degradasi.  Kita harus menetapkan diri, sampai tua pun kita akan terus di antara orang-orang muda untuk menyuarakan kepada mereka supaya mereka terus bangkit.
Paulus memandang orang-orang yang dipimpinnya sebagai teman-teman sekerja bukan sebagai anak buah (2 Kor 6:1).  Ia berkata supaya mereka jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah mereka terima.  Ini berlaku bagi kita juga karena kita bisa membuat sia-sia apa yang sudah kita terima.  Sekarang pertanyaannya, apakah kita masing-masing sudah menerima kasih karunia?  Kalau sudah menerima maka kita tidak bisa lari.  Oleh karena itu, Injil bukan berbicara hanya emosional saja.  Di Lukas pasal 14 dikatakan jika kamu mau membuat menara duduk dulu dan membuat anggarannya.  Jangan-jangan kalau tidak membuat anggarannya, kamu berhenti di tengah jalan dan tidak menyelesaikannya.  Lalu datanglah lawanmu dan mencemooh kamu.  Bahkan apabila kamu mau berperang, hitung dulu prajuritmu kira-kira dengan 1000 orang bisa atau tidak melawan 10.000 orang, kalau tidak bisa ya lebih baik berdamai saja.  Tuhan memberikan karunia-karunia roh, tapi kita tidak menggunakannya maka itu akan terbuang sia-sia atau hanya menjadi sampah.  Semua yang diberikan Tuhan itu sangat berguna, tapi kita mau menggunakannya atau tidak.
Pada waktu Tuhan berkenan, Dia akan mendengarkan kita (2 Kor 6:2).  Pada waktu Dia berkenan, tingkap-tingkap langit akan dibukakan dan karunia-karunia akan dicurahkan.  Hari ini adalah hari penyelamatan, jangan sampai kita melewatkannya dengan percuma.  Kita dipanggil ada tujuan.  Jika Saudara belum tahu untuk apa dipanggil berarti Saudara belum diselamatkan karena pemanggilan itu tidak mungkin tanpa ada tujuannya.  Bodoh jika ada seseorang yang tidak tahu mengapa dia dipanggil.  Makin lama dia akan binasa karena ketidaktahuannya.  Pastikan bahwa kita benar-benar selamat.
Banyak orang menyangka jalannya lurus padahal ujungnya kebinasaan.  Namun kita akan terus menyuarakan kebenaran dan bertanya apakah mereka sudah diselamatkan.  Apabila kita tahu betapa berharganya jiwa seseorang maka kita akan berjuang sedemikian rupa supaya ia selamat.  Kebaikan dan kejahatan manusia tidak akan pernah bisa menyelamatkan.  Yang bisa mengubah manusia hanya kasih agape Tuhan.  Cobalah dengan berbagai cara untuk menyelamatkan generasi-generasi manusia.  Kita akan lihat bahwa cara-cara itu tidak akan bisa menyelamatkan karena hanya Injil yang mampu membebaskan manusia.  Hanya Roh Tuhan yang bisa mengubah manusia menjadi baik menurut Tuhan.
Kembali kepada kata-kata Patton, kita akan terus berperang, menyerang.  Untuk ibu-ibu yang sudah tua, berdoalah untuk kita yang berperang.  Berdoalah untuk pemberitaan Injil kita.  Bagi Saudara yang sudah lama tidak memberitakan Injil, kembalilah, minta kepada Tuhan supaya dipenuhi lagi.  Dari awal kita dipanggil untuk menjadi pasukan khusus.  Kita harus melatih diri kita sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.  Kita tidak akan memberitakan Injil kalau kita tidak “membuat waktu” untuk memberitakan Injil.Mari kita baca Yosua 3:1-5.  Jika kita ingin menaklukkan sesuatu kita tidak bisa hanya mengintai terus.  Kita bukan pasukan pengintai, tapi pasukan penakluk.  Pasukan itu harus diatur dan kita juga perlu cermat, cerdik, fokus jika mau pergi berperang.  Kita tidak bisa asal pergi begitu saja (emosional).  Selain itu, kita juga tidak bisa menggunakan kekuatan sendiri karena kita akan kecewa kalau menggunakan kekuatan kita sendiri.  Kita harus mengutamakan Tuhan ketika kita pergi memberitakan Injil.  Tuhanlah yang berperang bagi kita, tapi kita yang melaksanakannya di tengah-tengah medan peperangan.
Ada tertulis “kuduskanlah dirimu”, ini berbicara kita melepaskan keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup karena itu semua yang mengganggu kita dalam berperang.  Sadari, betapa seriusnya kita harus hidup.  Mari cek hidup kita masing-masing.  Ada lubang atau tidak di dalam bejana kita.  Cek kalau kekuatan kita menjadi lemah.  Cek kalau banyak kecelakaan atau kerugian dalam hidup kita.  Cek mengapa kita tidak diberkati oleh Tuhan.  Kuduskanlah dirimu maka Tuhan akan melakukan perbuatan yang ajaib di depan kita.
Ada kata-kata dari Patton.  “Dorong, dorong dan dorong.  Anda harus mendorong tubuh hingga energi penghabisan kemudian melanjutkan.  Anda tidak memperoleh apa-apa hanya dengan bekerja hingga tubuh Anda mengatakan bahwa Anda lelah dan sangat lelah.  Tubuh hanya akan terbentuk dan bertumbuh sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan oleh pikiran atas tubuh yang malas itu.  Jika anda hanya berolahraga hingga tubuh terasa lelah, tubuh akan menjadi malas dan berhenti lebih cepat setiap kalinya.  Anda harus mencapai titik sangat lelah dan melanjutkan.  Dengan cara itu tubuh akan mengerti kita harus meningkatkan kekuatan tubuh kalau pikiran gila itu mendorong dengan sekeras ini.  Jika Anda selalu berhenti saat Anda merasa lelah Anda tidak akan memperoleh apa-apa.  Begitu Anda mengizinkan tubuh mengatakan kepada pikiran kapan akan berhenti Anda pasti kalah.  Anda tidak akan mendapat manfaat dengan mendengarkan tubuh.  Kita akan menjadi jauh lebih kuat kalau kita mendorong tubuh kita menggunakan sekitar sepersepuluh dari kekuatan tubuh kita dan kurang dari sepersepuluh pikiran kita.”  Seorang Achiever adalah orang yang berani menggerakkan tubuhnya.  Kita bisa mempunyai pikiran kuat, tapi kalau tubuh tidak mengikuti pikiran kita ya sama saja.  Bagaimana Tuhan akan bekerja kalau kita tidak bekerja dan tubuh kita mengikuti kemalasan kita?  Tubuh kita harus di dorong sedemikian rupa.  Kalau kita mau mencapai sesuatu kita harus melatih diri kita.  Hari ini memang belum terjadi apa-apa, tapi kita akan terus maju, terus berperang, terus menyerang kerajaan kegelapan.  Semangat bertempur harus kita pelihara.  Kalau ada yang lemah datangi dan berdoa untuk dia.  Jangan ada yang cuek di antara kita.  
Bagaimana Tuhan mempersiapkan pasukannya?  Yaitu dengan Tuhan bawa ke padang gurun.  Di padang gurun kita akan berlatih.  Kita makan manna dan artinya kita percaya pada penyediaan Tuhan.  Kita berhadapan dengan panas, kekurangan, kalajengking, ular, tapi itu untuk melatih kita menjadi kuat.  Dalam firman Tuhan ada tertulis, yang keluar dari Mesir yaitu 600.000 laki-laki, tapi yang siap berperang hanya 40.000 orang.  Bahkan di Yosua 4:11-13 diceritakan dari sekian banyak yang lahir di Mesir hanya tinggal dua orang yaitu Yosua dan Kaleb.  Di dalam Tuhan juga ada yang namanya seleksi alam.  Kalau kita terus memberontak maka kita akan binasa.
Ini contoh seleksi alam yang terjadi pada bangsa Israel di padang gurun.  Tuhan yang menewaskan bangsa Israel waktu itu di padang gurun (1 Kor 10:5).  Ada 4 dosa yang dilakukan oleh bangsa Israel yaitu menyembah berhala, percabulan, mencobai Tuhan, dan bersungut-sungut (1 Kor 10:6-10).  Empat dosa ini yang menghalangi umat Tuhan untuk menyelesaikan panggilannya.  Berhati-hatilah supaya Saudara jangan jatuh (1 Kor 10:11-12).  Tidak ada yang bisa sombong di sini.  Mari kita semua menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan dan bukan hanya menerima informasi saja.  Inilah cara Tuhan menyeleksi bangsa Israel hingga akhirnya muncul pasukan yang siap menaklukkan tanah Kanaan.  Jangan takut menghadapi banyak musuh kalau Saudara kudus dan Tuhan ada di pihak Saudara.  Jika kita berperang dengan Tuhan, itu bukan lagi dengan gagah perkasa atau kekuatan kita, tapi oleh Roh-Nya (Yosua 5:13-15).  Rahasia kemenangan kita adalah ketika Tuhan bersama-sama dengan kita.  Pastikan keempat dosa ini tidak ada.  Ini berbicara kudus dan tidak campur.  Kita ditetapkan untuk menjadi hamba Tuhan maka ikutilah Tuhan.  Jangan ikuti perasaan kita.
Apa yang tertulis dalam 2 Korintus 6:3-7 adalah berbicara tentang integritas sebagai pelayan-pelayan Tuhan.  Kembali seperti yang sudah tertulis di atas bahwa kita harus menang dalam suatu pertandingan.  Semua pertandingan baik, tapi kalau tidak memperoleh kemenangan maka kita tidak mendapatkan kemuliaan (2 Kor 6:14-18).  Mari kita baca di Wahyu 21:5-6.  Di ayat itu tertulis barangsiapa haus maka ia akan Ku beri minum.  belum selesai.  Kita harus menanggung, memikul apa yang menjadi beban kita.    
Berarti yang tidak haus tidak akan diberi minum.  Selanjutnya ada tertulis di ayat 7 barangsiapa menang, berarti ada pertempuran.  Pertempuran kita Jangan tanggungkan beban kita ke orang lain.  Lalu di ayat 8 ada tertulis tentang neraka, tapi banyak orang tidak percaya bahwa dia bisa masuk ke dalam neraka.  Sadar, kita semua harus punya rasa takut akan Tuhan.  Betapa seriusnya hidup di dalam Tuhan.  Mari kita kuatkan diri kita sedemikian rupa.  Mari kita tidak lewatkan hari-hari kita begitu saja.  Kejarlah panggilan tertinggi dalam hidupmu dan tidak perlu melihat orang lain (Wahyu 14:3-5).  Panggilan kita adalah apa yang Tuhan katakan kepada masing-masing pribadi kita.  Mari kita berlomba-lomba menyelesaikan panggilan sorgawi.  Dan kita akan terus memperingatkan kepada orang-orang bahwa hidup itu tidak main-main.  Hari Tuhan datang seperti pencuri dan kita semua harus berjaga-jaga supaya kita tidak binasa.



Khotbah:
Sukaryo Ksatria
Jubilee Semarang

Hidup oleh roh kudus

Hidup oleh roh kudus 

Mari kita baca Yohanes 7:37-39.  Di ayat tersebut Yesus berdiri dan berseru.  Itu menandakan bahwa Ia serius dan Ia ingin diperhatikan ketika sedang berbicara.  Yesus ingin orang-orang mendengarkan-Nya.  Pada waktu itu Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!”  Kita tidak bisa hanya datang, tapi kita juga harus minum dari apa yang Dia tawarkan.  Kita harus hidupi dan berjalan di dalam aliran-aliran air hidup itu yaitu Roh Kudus.  Yesus dimuliakan ketika Roh Kudus datang kepada kita dan waktu itu Yesus belum dimuliakan.  Kemudian di Kisah Para Rasul pasal 19 Yesus sudah dimuliakan karena Roh Kudus sudah turun.  Yesus telah mati, bangkit, naik ke sorga, dan Ia memberikan Roh Kudus kepada kita sebagai Penolong.
Dalam Kisah Para Rasul 19:1-3 diceritakan bahwa beberapa murid belum pernah mendengar tentang Roh Kudus.  Namun sekarang pertanyaannya, semisal mereka pernah mendengar tentang Roh Kudus apakah otomatis mereka sudah menerima Roh Kudus?  Belum tentu.  Waktu itu mereka dibaptis dengan baptisan air Yohanes.  Apakah baptisan itu benar?  Benar, tapi ada baptisan lain yaitu baptisan Roh Kudus dan api.  Mereka sudah berada di jalan yang benar hanya saja di tengah perjalanan tidak ada yang meneruskan.  Dengan kata lain tidak ada yang memberitakan lagi tentang Yesus, padahal Yohanes Pembaptis dari awal sudah berbicara tentang Yesus.  Tanpa Yesus mereka bisa tersesat, tapi hal itu tidak terjadi karena Paulus datang kepada mereka (ke Efesus) dan meneruskan apa yang sudah mereka dengar sebelumnya.
Dulu kita sudah mendapatkan Roh Kudus waktu kita bertobat dan dilahirkan kembali, tapi bagaimana dengan sekarang?  Bisa saja kita sudah lupa dengan Roh Kudus.  Kita perlu kembali kepada kasih yang mula-mula yaitu hidup oleh Roh Kudus.  Di Kisah Para Rasul 4:29-31 para rasul berdoa supaya mereka dipenuhi oleh Roh Kudus.  Apakah sebelumnya mereka belum penuh oleh Roh Kudus?  Ya sudah.  Hanya saja mereka minta keberanian lebih lagi karena itu hari yang berbeda.  Jadi setiap hari mereka perlu minta keberanian.  Seharusnya kita juga seperti mereka, setiap hari meminta keberanian untuk memberitakan Injil dan kekuatan untuk mengatasi masalah.  Jangan sampai kita terus menerus datang ke orang supaya kita didoakan.  Belajarlah untuk berdoa bagi diri sendiri dan memotivasi diri sendiri.  Ada banyak ayat dalam firman Tuhan untuk memotivasi diri sendiri.  Setelah itu, baru kita memotivasi orang lain.
Ayat di Kisah Para Rasul 1:8 menuju kepada Roh Kudus.  Yesus pun tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Roh Kudus.  Dengan Roh Kudus kita memiliki kuasa dan kuasa itu akan terus ada dan kita tidak mungkin menjadi orang yang loyo-loyo.  Namun bukan berarti kita tidak pernah loyo.  Kita bisa loyo, tapi kita harus bangkit lagi.  Jika ada Roh Kudus maka kita memiliki kuasa dan selubung itu diambil dari pada kita (2 Kor 3:17-18).  Apa yang kita ikat di bumi akan terikat di sorga, apa yang kita lepaskan di bumi akan terlepas di sorga.  Memang untuk masuk ke dalam kerajaan Tuhan tidak ada yang gampangan.  Kita harus melewati pintu yang sesak.  Orang yang ingin masuk tidak bisa dengan santai-santai dan hanya sedikit orang yang mendapatkannya.
Paulus berani berbicara seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 1:1 karena dia tahu panggilannya yaitu untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus.  Kemudian di ayat 2-4 diceritakan tentang nenek moyang Timotius dan kita juga perlu tahu siapa nenek moyang kita karena dari sini kita bisa  melihat kasih karunia Tuhan bekerja.  Selain itu, di ayat tersebut diceritakan bahwa Paulus begitu ingin bertemu dengan Timotius karena pekerjaan Timotius luar biasa.  Timotius dulunya adalah seorang yang pendiam, tapi Paulus pernah berkata kepadanya jangan ada seorangpun menganggap engkau muda atau rendah karena Paulus melihat Kristus yang ada di dalam Timotius (2 Tim 1:5-6).
Kita sebagai orang yang sudah bertobat dan dilahirkan kembali tidak bisa berkata bahwa kita adalah orang yang pendiam karena berita Injil harus di dengar oleh banyak orang.  Bagaimana Injil bisa sampai kepada banyak orang kalau kita pendiam?  Dari 12 murid Yesus hanya 1 yang tidak mati martir yaitu Yohanes.  Murid Yesus yang lainnya mati martir dan mereka mati pasti karena pemberitaan Injil.  Mereka mau seperti itu karena Roh Kudus yang ada di dalam mereka.  Kita juga bisa berbeda atau berubah karena Roh Kudus.  Tanpa Roh Kudus maka karakter lama kita bisa kembali.  Misalnya sebelum dilahirkan kembali kita adalah orang yang pendiam dan setelah dilahirkan kembali kita tidak menjadi pendiam lagi.  Namun apabila kita tidak terus di dalam Roh Kudus maka karakter pendiam kita bisa kembali lagi.  Dengan Roh Kudus pasti ada karunia-karunia roh yang keluar dari dalam diri kita.  Roh Kuduslah yang membuat karunia roh berkobar, tapi kadang kita lupa atau sibuk.  Padahal ada banyak karunia roh.
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (For God hath not given us the spirit of fear; but of power, and of love, and of a sound mind.)”  -2 Timotius 1:7-.  Ketertiban sama artinya dengan sound mind (pikiran yang tertib, benar, teratur, positif).  Pertama Paulus menuliskan tentang kuasa (power) kemudian kasih (love) dan ketertiban (sound mind).  Kuasa tidak dapat bekerja tanpa kasih dan ketertiban.  Kalau kita berbicara tentang berpikir, itu tidak bisa tanpa kuasa dan kasih Tuhan karena tanpa keduanya kita bisa sombong.
Kita sudah dipindahkan dari kerajaan kegelapan ke dalam kerajaan Anak-Nya yang kekasih (Kolose 1:9-13).  Dalam Wahyu 12:10, berbicara tentang 4 hal yaitu keselamatan, kuasa, pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya.  Keempat hal ini bisa terjadi karena Roh Kudus.  Jika kita memiliki Roh Kudus maka kita tidak hanya selamat tapi keempatnya juga akan kita dapatkan.  Tanpa keempat hal di atas maka kita akan didakwa oleh Iblis terus menerus sehingga kita menjadi orang yang lemah karena dakwaan itu.  Selain itu, dengan pikiran yang  positif (tertib) kita pasti tidak mudah untuk didakwa.  Kita melihat segala sesuatu menjadi berbeda karena positif.
Tuhan menyuruh kita untuk melalui jalan yang sempit (Mat. 7:13).  Ternyata untuk mendapatkan Roh Kudus itu jalannya sesak karena ada Iblis yang menahan kita supaya kita tidak bisa mendapatkannya.  Iblis akan menipu kita dengan segala cara.  Namun Tuhan tetap perintahkan untuk masuk meski tidak mudah.  Banyak gereja menyampaikan bahwa untuk datang ke Tuhan itu gampang, padahal sebenarnya tidak gampang.  Kita harus berjuang untuk masuk kerajaan sorga melalui pintu yang sesak itu.  Kita harus dilahirkan kembali untuk dapat melihat kerajaan sorga.  Mungkin kita marah atau tersinggung ketika ada yang memberitakan Injil kepada kita , tapi waktu kita menerimanya kita akan melihat perubahan dalam diri kita.  Yesus mengajak untuk masuk melalui pintu yang sesak, karena lebarlah jalan yang menuju kepada kebinasaan.   Hanya sedikit orang yang bisa masuk dan apakah kita termasuk di dalamnya (Mat. 7:14)?  Kalau sedikit, apakah itu gampangan?  Tidak, tapi kita harus berjuang.  Ketika kita memberitakan Injil kepada orang, kita harus beriman.  Masalah dia bertobat atau tidak, itu hanya Tuhan yang tahu.  Kita hanya memberitakan dan jangan memaksa.  Jangan hilang dari pergerakan dan panggilan Tuhan karena dari sinilah kita bisa memberitakan Injil.  Namun kita tidak bisa memberitakan Injil kalau kita tidak diutus.  Orang yang diutus adalah orang yang memiliki kuasa, kasih, dan pikiran yang jernih (tertib).  Tanpa pikiran yang tertib, kita pasti mulai mencari sesuatu yang hanya untuk diri sendiri.  Jangan malu untuk memberitakan Injil (2 Tim 1:8-11).  Injil inilah yang mematahkan maut dan tidak dapat binasa.  Ingat, panggilan kita sudah luar biasa sejak sebelum permulaan zaman.    


Khotbah:
Darwin Egan Lontoh
Jubilee Semarang

Percaya dan Taat

Percaya dan Taat 

Mari kita baca Amsal 4:18.  Kita perlu cek diri kita, apakah kita bertumbuh dan berubah.  Seperti tema jemaat yang tertulis di depan yaitu dari kemuliaan ke kemuliaan (from glory to glory).  Kita harus terus hidup oleh iman.  Kemarin kita bisa semangat atau bahagia, tapi kalau sekarang kita tidak semangat atau bahagia lalu apa gunanya?  Tidak peduli apapun keadaan kita, kita harus memulai lagi dengan semangat.  Mari perhatikan diri kita, hari demi hari berubah atau tidak?
Jika kita ingin benar (tidak tersandung) berarti kita harus memiliki cara pikir yang benar (Amsal 4:19).  Barangsiapa pintar dalam matematika belum tentu ia pintar dalam kehidupan.  Hiduplah oleh iman.  Jika ada masalah selesai ya selesai.  Kita tidak lagi melihat ke belakang.  Namun itu bukan karena hebatnya kita meski ada dikatakan dalam firman Tuhan “imanmu telah menyelamatkan engkau”.  Hal itu bisa terjadi karena Yesus sudah lakukan terlebih dahulu.  Ia memberi contoh kepada kita, Tuhan menjadi manusia.  “Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku…”  (Amsal 4:20-21).  Ini yang akan membuat kita terang terus yaitu kita memikirkannya.  Yang sering menjadi kesalahan kita adalah kita kurang berpikir.  Banyak orang suka mendengar kotbah, tapi mereka tidak melihat apakah dirinya berubah.  Oleh karena itu, mereka jadi “tersandung”.  Pernahkah Saudara memikirkan ketika Saudara bodoh?  Itu perlu dipikirkan, tetapi jangan terus di dalam kebodohan.  Perhatikankanlah perkataan Tuhan berarti kita harus lihat, dengar, baca, dan pikirkan.  Sama seperti Yosua yang merenungkan firman Tuhan siang dan malam.  Merenungkan berarti memikirkannya.  Kita saja kalau ingin bisa rumus matematika harus baca rumus itu dengan serius, tidak bisa baca dengan asal-asalan.  Baca firman Tuhan pun harus serius.  Dan ini hasil dari kita merenungkan perkataan Tuhan yaitu “…menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”  (Amsal 4:22).  Renungkan dan pikirkan apa yang firman Tuhan katakan.
Mari kita baca Yohanes 8:1-11.  Perhatikan kata-kata ayat per ayat.  Menurut Saudara perempuan itu berbuat dosa lagi tidak setelah Yesus berkata jangan berdosa lagi mulai dari sekarang?  Kalau perempuan itu tidak ikut Tuhan, dia pasti berdosa lagi.  Dia memang diampuni, tapi kalau tidak ikut Tuhan dia bisa berdosa lagi.  Seperti 10 orang kusta, semua disembuhkan tapi hanya satu yang kembali kepada Tuhan dan mengikut Dia, itulah perbedaannya.  Mari kita pikirkan.  Bagaimana bisa manusia tidak berbuat dosa lagi dari sekarang?  Ya pasti tidak bisa kecuali dia ikut Tuhan.  Perempuan yang berzinah itu jika tidak ikut Yesus suatu saat bisa tertangkap lagi karena berzinah.
Kita yang sudah bertobat dan dilahirkan kembali bisa berdosa lagi jika kita tidak terus ikut Tuhan (1 Yoh 3:9, 5:1-2). Jika kita tidak bersama Tuhan pasti berdosa.  Lalu jika seperti itu apakah kita boleh berdosa lagi dan bertobat lagi?  Sekali kali tidak.  Oleh karena itu, mari lihat hidup kita.  Kita terus beriman untuk hidup bersama-sama Tuhan atau tidak.  Jangan anggap remeh hal ini karena kenyataannya banyak yang hilang.  Dulu semangat di sini dan sekarang sudah tidak ada.  Manusia tanpa Tuhan sukanya memikirkan diri sendiri.  Kekristenan tidak hanya percaya, tapi juga harus taat (Roma 1:5).  Percaya tanpa taat itu hanya sekedar ikut-ikutan.  Kita beragama Kristen karena orangtua kita Kristen.  Bukan dari kita sendiri yang mendengar Tuhan.  Lalu bagaimana kita bisa mendengar dari Tuhan?  Ya harus ada orang yang memberitakan kepada kita.  Dari kecil kita sudah ke gereja, tapi belum tentu sudah mendengar Tuhan.  Bisa saja hanya ikut-ikutan.
Waktu di Manado, KKR di mana Darwin kotbah itu bertemakan kasih Yesus mengubah segala sesuatu.  Tema itu benar.  Kalau kita mendapat kasih agape pasti kita mengasihi Tuhan dan orang lain.  Caranya bagaimana mengasihi orang lain?  Yaitu dengan memberitakan Injil.  Jika kita mengasihi orang lain tanpa memberitakan Injil dan tanpa melakukan perintah-perintah-Nya berarti kita tidak taat.  Kasih mengubah segala sesuatu yaitu mengubah kita dari kegelapan kepada terang.  Oleh karena itu, dosa bisa dikalahkan ketika kita bersama-sama dengan Kristus yaitu Yesus yang diurapi.
Yesus menerima orang yang berdosa, tapi setelah orang itu menerima Yesus seharusnya dia tidak berdosa lagi.  Misalnya orang yang letih, lesu dan berbeban berat, setelah menerima Yesus tidak mungkin ia letih dan lesu terus.  Yesus pasti kuatkan yang lemah dan yang miskin diperkaya.
Kita menjadi kepala dan bukan ekor.  Lihat hidup Saudara, masih terang atau tidak?  Masa orang yang sudah dilahirkan kembali kalah dengan hidup ini.  Di mana iman Saudara?  Yesus berkata “apakah Ku dapati iman di bumi?”  Iman itu mengalahkan dunia (1 Yoh 5:4).  
Banyak orang mau percaya, tapi tidak mau taat.  Banyak orang hanya mau memikirkan dirinya sendiri.  Gereja bisa penuh dengan orang percaya, tapi bukan orang percaya dan taat.  Bahkan di Kolose dikatakan di dalam jemaat dan Kristus sebagai kepala.  Namun sekarang manusia bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai kepala.  Jemaat adalah tubuh Kristus yaitu kumpulan orang yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.  Jadi bukan karena ada kepentingan pribadi kita masuk ke dalam sebuah gereja seperti ada rekan bisnis, suku dan ras sama atau adat yang sama.  
Kita dipindahkan dari kegelapan kepada terang (Kolose 1:12-13, 16, 20).  Jadi kita diambil bukan disuruh untuk berpindah.  Bukan kita yang jalan sendiri atau pergi dari situ, tapi kita dipindahkan (diambil).  Di dalam jemaat Tuhan memberikan rasul, nabi, gembala, pengajar, dan pemberita Injil.  Tanpa ada kerasulan tidak heran pengajarannya jadi tidak benar.  Harus dimulai dari kerasulan.  Yesus saja memulainya dari 12 rasul.  Sekarang manusia gantikan kerasulan dengan pendeta, uskup, paus yang tidak ada di Alkitab.  Rasullah yang meneruskan firman-Nya (Kol 1:25-29).  Tidak sembarang orang bisa meneruskan firman-Nya.  Kalau rasul betul-betul meneruskan apa yang Yesus katakan seperti Yesus dengan 12 rasul-Nya.  Kata Kristus artinya yang diurapi berarti bukan hanya supaya kita percaya, tapi supaya kita juga taat.  Ketika kita memberitakan Injil pastikan mereka tidak hanya percaya, tapi juga taat.  Mari kita ingat kembali tentang pewahyuan, perjumpaan dengan Tuhan, kuasa, dan tujuan.  Pernahkah kita bangun pagi lalu tidak tahu apa yang mau kita lakukan?  Itu paling tidak enak.  Paling kita akan tidur lagi, tapi jangan harap kita jadi bahagia setelah bangun tidur.  Karena itu, tidak enak kalau hidup tanpa tujuan.  Keempat hal itu harus ada di dalam kita karena kita diajarkan untuk percaya dan taat.  Kita tidak bisa melakukan perintah Tuhan tanpa berjumpa dengan Tuhan dan tanpa kuasa.  Manado adalah kota dengan banyak gereja dan KKR sering diadakan di sana.  Kalau di Jawa mungkin sudah bosan, tapi di sana tidak pernah bosan mengadakan KKR.  Sebenarnya banyak orang di sana yang haus akan kebenaran. Darwin punya visi suatu saat ada jemaat yang berdiri di Manado.  Mereka sungguh-sungguh bersemangat dan bisa saja disesatkan, tapi Tuhan tahu keinginan mereka.  Inilah yang disebut kasih kepada sesama yaitu dengan memberitakan kabar baik (Roma 10:15-17).  Lalu bagaimana orang-orang bisa percaya?  Yaitu dengan firman yang diurapi dan orang-orang yang diurapi ketika memberitakan.

Khotbah:
Darwin Egan Lontoh
Jubilee Semarang

Jangan Mau Dibutakan Oleh Ilah Zaman Ini

Jangan Mau Dibutakan Oleh Ilah Zaman Ini 

Percaya adalah kata yang mudah diucapkan, tapi untuk percaya itu tidak gampang.  Misalnya ada orang yang ingin mempunyai seorang anak dan dia membutuhkan mujizat.  Dia pasti mencari sedemikian rupa untuk mendapatkan seorang anak.  Kita jangan menghakimi orang yang sedang mencari karena bisa saja waktu mereka sudah menemukan, kita tertinggal dari orang yang mencari itu.  Carilah kerajaan Tuhan dan kebenaran-Nya.  Bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Tuhan mencari makanan, minuman, pakaian, tapi Saudara carilah kerajaan Tuhan dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan.
Mari kita lihat contoh orang yang mencari yaitu Salomo.  Apakah Saudara adalah orang yang sungguh-sungguh mencari sesuatu di dunia ini seperti Salomo?  Kita perlu menyelidiki siapa diri kita (Pengkotbah 2:3).  Salomo membangun istana-istana, taman-taman, dsb (Pengk. 2:4-8).  Ia berusaha mencari keindahan-keindahan dari dunia ini.  Itulah manusia.  Bukankah manusia dalam hidupnya berusaha mencari kebahagiaan?  Contohnya adalah kuliah.  Saudara kuliah untuk bekerja kemudian Saudara mengumpulkan harta untuk memenuhi berbagai kebutuhan atau mewujudkan impian.  Semuanya itu berbicara tentang kebahagiaan.  Secara materi Salomo lebih hebat daripada Daud (Pengk. 2:8-10).  Suatu ketika setelah Salomo selesai dengan apa yang ia bangun, ia tiba-tiba terdiam.  Ia melihat bahwa apa yang ia bangun semuanya sia-sia (Pengk. 2:11).
Kita bisa ada di dalam gereja, tapi sebenarnya pengejaran kita masih yang lain.  Itulah sifat dari agamawi.  Kita membungkus dengan bagus bagian luarnya saja.  Padahal menutupi masalah itu tidak akan membuat kita merdeka.  Banyak orang ingin berubah, tetapi tidak bisa berubah.  Mengapa?  karena mereka tidak bisa melepaskan pandangannya yang dulu atau yang sebelumnya.  Mereka sudah tahu bahwa pondasi yang mereka pegang ini membuat masalah, tapi mereka tidak mau melepaskannya.  Hikmat-hikmat yang lama harus dibongkar terlebih dulu, baru kita bisa menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya.  “Nilai sejati dari seorang manusia bisa ditemukan dalam kadar seberapa besar ia telah memperoleh pembebasan dari dirinya”  (Albert Einstein).  Kenyataannya yang menghambat kita untuk mencapai yang lebih besar adalah diri kita sendiri.  Kita ini harus berpikir.  Tidak hanya datang ke gereja saja tanpa berpikir.  Seharusnya kita berpikir apa yang menghambat perkembangan kita.  Sebenarnya jawabannya adalah karena kita tidak mau keluar dari kotak yang sudah kita anggap benar.  Oleh karena itu, kita tidak bisa meraih hal-hal yang lebih besar.  Mari lihat siapa kita di dalam Tuhan.  Perjumpaan dengan Tuhanlah yang membuat hidup kita tidak biasa-biasa saja.
Apa yang kita pikirkan tentang kemuliaan?  (Roma 8:18).  Itu sesuatu yang sifatnya jasmani atau sesuatu yang ilahi yang dikejar oleh nabi-nabi.  Kita belum banyak mengalami (hidup dalam kemuliaan), tapi terkadang kita sudah tertutup dengan ilah zaman ini sehingga kita berhenti mengejarnya.  Dengan sangat rindu, dunia menantikan anak-anak Tuhan dinyatakan (Roma 8:19).  Mengapa sangat rindu?  Karena manusia sudah ditaklukkan kepada kesia-siaan (Roma 8:20).  Sama seperti apa yang terjadi pada Salomo, ia membangun ini-itu tapi kenyataannya sia-sia.  Jika pengejaran kita hanya sebatas pada hal jasmaniah saja maka kita tidak akan bertemu dengan Tuhan.  Kita mengajak orang ke gereja bukan hanya supaya mereka diberkati, tapi kita ingin memberitakan tentang kerajaan Tuhan.  Sebenarnya bukan manusia yang menginginkan supaya mereka takluk pada kesia-siaan, tapi karena Tuhanlah dengan kemahakuasaan-Nya Dia yang menaklukkan manusia di dalam kesia-siaan hidup.
Kita mau bahwa di dalam hidup ini kita menemukan suatu kehidupan.  Kalau apa yang kita kejar di dunia bisa memberikan hidup yang kekal maka kita tidak perlu mengejar Tuhan.  Pernahkah Saudara tertegun dengan semua yang sudah Saudara kejar?  Ternyata hasilnya hanya seperti itu saja seperti yang dialami Salomo.  Ada perbudakan kebinasaan dan sayangnya jiwa manusia tidak menyadarinya (Roma 8:21).  Namun kita harus sadar bahwa kita bisa mengalami kemerdekaan kemuliaan anak-anak Tuhan.  Manusia tanpa Tuhan itu binasa.  Semua yang jasmani akan mendatangkan kebinasaan, tapi bukan berarti kita tidak boleh mengkonsumsi sesuatu untuk jasmani kita.  Hanya saja itu tidak mendatangkan kekekalan.  Rohlah yang memberi hidup dan daging sama sekali tidak berguna.  Bisa saja pikiran kita hanya sampai pada mengejar kekayaan (bagaimana mendapatkan kekayaan dengan berlimpah-limpah).  Sekarang pertanyaannya, adakah pengejaran kita yang melampaui kekayaan?  Yang lebih tinggi atau mulia dari kekayaan.  Kita harus pelajari tipuan dari kekayaan itu karena jika tidak seumur hidup kita akan diikat oleh kekayaan atau uang.  Ketika kita tidak bisa melepas apa yang kita senangi atau cintai, di situ terlihat siapa tuhan kita.
Beritakanlah Injil dengan segala keagungannya.  Jika Saudara dibawa oleh Tuhan untuk bersaksi di mana saja, bersaksilah dengan berani karena Injil yang Saudara bawa itu bisa menggoncangkan dunia.  Namun apabila kita memberitakan Injil dengan niat ingin menyelamatkan seseorang maka itu bukan Injil.  Injil adalah kekuatan Tuhan yang menyelamatkan.  Dengan supremasinya Tuhan akan meneguhkan Injil itu, dengan atau tanpa kita.  Bukan banyaknya orang yang kita kejar, tetapi kuasa yang bekerja di dalam kita.  Kadang kita suka hidup seenaknya padahal hidup ini sangat berharga.  Kita tidak mau melepaskan apa yang mengikat kita.
Mari lihat kembali perkataan dari Albert Einstein yang di atas.  Siapa yang mengikat kita?  Apa yang mengikat kita?  Dulu kita bangga pernah habis-habisan untuk mengejar Tuhan, sekarang bagaimana?  Apa yang telah mempesona kita?  Fokuslah dengan Injil, bukan pada tanda-tanda dan mujizat karena semua itu hanya menyertai.
Mari kita baca 2 Korintus 4:1-2.  Di situ ada tertulis kata kami, siapakah kami itu?  yaitu orang-orang yang menerima pelayanan yaitu menerima berita Injil.  Kita di dalam jemaat bukan hanya untuk diam dan mendengar saja, tapi untuk pergi memberitakan Injil.  Sadarkan diri Saudara tentang hal itu.  Jangan kita memberitakan Injil karena doorprise (hadiah).  Doorprise tidak pernah menyelamatkan manusia.  Bahkan apabila kita datang ke gereja karena doorprise, itu sungguh memalukan.  Kita memberitakan Injil maupun datang ke gereja bukan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi.  Semuanya nanti akan diuji ketika kita memiliki sesuatu.  Siapakah yang menjadi tuhan kita.  Sebenarnya hidup yang paling merdeka adalah ketika kita tidak memiliki apa-apa.  Tidak terikat dengan apapun juga.  Kalau ada sesuatu yang menghalangi kebebasan kita dalam melayani Tuhan, lepaskanlah itu.  Kadang hal baik yang kita buat menutupi yang ilahi.  Waspada dengan tipuan Iblis.  Kalau kita tidak mendalaminya kita bisa bersembunyi dibalik aktivitas yang kita lakukan, tapi kuasa Tuhan tidak nyata bekerja di dalam kita.
Jika setiap hari pengharapan kita pada dunia ini maka kita adalah orang yang sudah binasa (2 Kor. 4:3-4).  Kita sudah binasa karena pikiran kita pada ilah zaman ini.  Banyak orang mengeluh karena tidak percaya.  Kadang kita juga masih mencari kebahagiaan dengan apa yang ada di dunia.  Padahal sesungguhnya bahagia kita adalah karena roh yang hidup, yang menyala-nyala di dalam diri kita.  Lepaskanlah semua yang Saudara miliki dan ikutlah Yesus.  Mengucap syukurlah dengan apa yang ada, baru kuasa Tuhan bisa bekerja.  Yesus adalah gambaran Tuhan, mengapa kamu tetap tidak percaya dan lebih percaya pada kuasa dunia ini yang mungkin lebih menjamin dan kelihatan?  Kita harus sadar bahwa kekayaan tidak menyelamatkan.  Malahan orang kaya dan orang pandai sukar masuk kerajaan sorga.  Jika pikiran kita masih dipenuhi tentang dunia ini maka kita tidak akan memberitakan Injil dengan penuh kuasa.  Yang kita beritakan adalah Yesus Tuhan dengan kemahakuasaan-Nya dan kedasyatan-Nya (2 Kor. 4:5-6).  Berita Injil yang berasal dari roh yang menghidupkan pasti akan terbit terang.  Sangat mahal harga satu jiwa.  Oleh karena itu, ada satu orang bertobat seluruh malaikat di sorga bersorak sorai.
“Tuhan menaklukkan segala makhluk kepada kesia-siaan dengan pengharapan hidup dalam kemuliaan Tuhan” (Dr. Maorice Nicoll).  Ini dikatakan oleh orang yang disebut sebagai pakar pencari batin.   Manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan batin; kehidupan emosionalnya tidak dipuaskan oleh hal-hal dari luar.  Tata kelolanya tidaklah hanya diterangkan dengan memperhatikan adaptasi kehidupan di luar. Ia membutuhkan gagasan-gagasan untuk memberinya arti terhadap keberadaannya. Terdapat sesuatu di dalam dirinya yang bisa bertumbuh dan berkembang – keadaan dirinya yang lebih jauh – yang tidak terletak pada “masa depan”, tetapi di atasnya.  Pernahkah kita merasa hampa karena tidak adanya gagasan-gagasan yang memberi arti?  Berapa banyak manusia yang masih mencari sesuatu yang bisa mengisi kehampaannya?  Mereka berpikir itu bisa membuang kehampaan yang ada di dalam dirinya.  Sebenarnya Tuhanlah yang bisa memberi apa yang menjadi pencarian-pencarian dari batin kita.
Siapa yang akan menerangkan Injil ini kepada orang-orang kalau bukan kita?  (2 Kor. 4:14).  Tenang saja kalau orang-orang itu masih mencari apa yang dari dunia.  Kita tidak perlu memberitakan Injil dengan frustasi.  Merekalah yang seharusnya frustasi dengan kesia-siaan mereka.  Namun apabila mereka bertobat (berpindah dari gelap kepada terang) maka Tuhan turut dimuliakan.  Tuhan tidak dimuliakan dengan pelayanan atau korban kita, tapi oleh orang-orang yang mengucap syukur dan memuji Dia karena sudah berpindah dari kegelapan.  Mari lihat Roma 8:18-21 dalam versi NIV.  Di ayat tersebut Paulus berpikir, mempertimbangkan kemuliaan yang akan diterimanya.  Selanjutnya seluruh ciptaan atau alam semesta ini menantikan anak-anak Tuhan dinyatakan.  Akibat manusia berdosa alam semesta mengalami degenerasi.  Manusia mengeksploitasi alam semesta sedemikian rupa.  Namun alam semesta akan bersukacita jika orang-orang kembali kepada Tuhan dan anak-anak Tuhan dinyatakan.  Kita bukan menjadi pribadi yang merusak, tapi justru pribadi yang memberkati orang lain.
Manusia sudah frustasi dalam hidup ini.  Namun ada pengharapan dalam kefrustasian mereka bahwa mereka akan dimerdekakan dari keterikatan atau kebinasaan mereka. Injillah yang membebaskan manusia dari perbudakan kepada kemerdekaan.  Memang butuh pengorbanan, kesengsaraan,  tapi itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima.  Orang yang tidak mau menderita karena Injil karena ia tidak melihat kemuliaan dari Injil.  Ingat bahwa pengharapan dalam Tuhan tidak mengecewakan karena kasih Tuhan telah dicurahkan kepada kita oleh Roh Kudus (Roma 5:1-5).  Oleh karena itu, orang yang memiliki kasih agape akan terus berkobar-kobar tanpa melihat keadaan enak atau tidak enak.  Suatu kehormatan kita bisa menjadi hamba Kristus dan menderita bagi Dia.

Khotbah:
Sukaryo Ksatria
Jubilee Semarang

Wednesday, 27 August 2014

Pewahyuan, Perjumpaan dengan Tuhan, Kuasa, & Tujuan

Pewahyuan, Perjumpaan dengan Tuhan, Kuasa, & Tujuan

Ada suatu pernyataan dari hamba Tuhan yang bernama Bill Johnson.  Dalam pernyataan itu menjelaskan bahwa kekristenan disebut agama pewahyuan karena bukan berasal dari manusia.  Itu diberikan oleh Tuhan untuk keselamatan manusia.  Agama lain bisa muncul karena manusia yang membuatnya.  Namun agama Kristen pun bisa menjadi buatan manusia jika mereka mengajarkan bahwa Yesus bukanlah jalannya.  Kekristenan dimulai dari Tuhan dan Ia tidak meninggalkan sebuah sistem.  Dimulai dari pertobatan kelahiran kembali kemudian kita menerima Roh-Nya dan Roh itu yang mengajarkan, membimbing kita untuk melakukan kehendak-Nya karena tidak ada satupun dari kita yang bisa melakukan perintah-Nya tanpa Roh Kudus.  Ingat cerita tentang Hawa yang dilarang makan buah pengetahuan baik dan jahat, tapi dia tetap memakannya?  Hal itu terjadi karena dia ditipu oleh Iblis.  Pikiran Hawa ditipu.  Pikiranlah yang mengendalikan dia.  Hawa ditipu yaitu jika dia memakan buah itu maka dia tidak akan mati dan memang dia tidak mati, tetapi hubungannya dengan Tuhan terputus.  Lalu untuk kembali berhubungan dengan Tuhan, Tuhanlah yang memulai, bukan manusia.  Tuhan memberi jalan kepada manusia untuk kembali jika manusia mau percaya.
Pewahyuan apa pun dari firman Tuhan yang tidak membawa kita kepada perjumpaan dengan Tuhan hanya membuat kita menjadi lebih agamawi. Gereja tidak bisa memiliki “bentuk tanpa kuasa”, karena itu menciptakan orang-orang Kristen tanpa tujuan (Bill Johnson). Ada beberapa kata yang penting dari pernyataan Bill Johnson yaitu pewahyuan, perjumpaan dengan Tuhan, kuasa, dan tujuan.  Pewahyuan berasal dari firman Tuhan dan itu diberikan kepada orang khusus (bukan sembarang orang).  Jika kita pernah mendapat pewahyuan bukan berarti kita terus mendapat pewahyuan.  Semua itu bergantung pada iman kita.  Iman timbul dari pendengaran firman Kristus.  Pewahyuan disebut juga visi.  Tuhan bukakan visi (pewahyuan) bukan hanya untuk dilihat, tapi untuk dilakukan.  Visi tidak bisa dilakukan tanpa kuasa dan tanpa diurapi.
Di dalam Wahyu pasal 12 ada 4 hal untuk kita hidup di dalam pewahyuan (visi) yaitu keselamatan, kuasa, pemerintahan Tuhan kita, dan kuasa yang diurapi-Nya.  Kita tidak tergila-gila dengan visi, tapi kita bisa melakukan visi karena ada hubungan dengan Tuhan.  Kita bisa lakukan karena Tuhan sudah lakukan.  Tidak mungkin kita bisa lakukan tanpa Tuhan lakukan terlebih dahulu.  Di Wahyu 12:11 dikatakan karena darah anak domba, kesaksian, tidak mengasihi nyawa sampai kealam maut (sudah mati dengan cara sendiri), kita bisa lakukan visi.  Kita bersaksi bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi kita ingin hal itu terjadi.  Kita bersaksi karena kita sudah mengalaminya sehingga kesaksian kita bukan hanya definisi.  Zaman sekarang banyak pengajar terfokus pada apa yang mereka ajarkan, tetapi mereka tidak pernah melakukannya atau menjadi teladan (1 Kor 11:1).  Mereka hanya mau mengajarkan, tetapi kita yang lakukan.  Dengan kata lain, kita diberikan konsep atau bentuk tapi tanpa ada hubungan dengan Tuhan.  Sama halnya dengan kita bisa menjelaskan kepada orang tentang Tuhan tapi kita tidak pernah bertemu dengan Tuhan.  Manusia bisa membuat konsep, tapi tidak ada hubungan dengan Tuhan.  Manusia bisa datang ke gereja hanya karena suatu doktrin.  Namun kita datang ke jemaat (Jubilee) bukan karena Jubileenya, pujian atau kotbahnya.  Kita ada di dalam jemaat ini karena kita bertobat dan dilahirkan kembali.  Kita datang ke gereja bukan karena ada orang berkata gereja ini bagus atau karena berkat, tapi kita datang karena ada hubungan dengan Tuhan.  Kita terlahir di dunia ini karena ada dua orang yang berhubungan.  Di dunia kita bisa berhubungan dengan Tuhan atau dengan Iblis.  Ada baik dan jahat.  Mengikuti hukum atau tidak.  Sudah bertobat lahir baru pun tetap ada positif dan negatif. 
Kembali ke pernyataan Bill Johnson.  Kita datang ke gereja dan mendengar firman menjadikan kita agamawi atau kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan?  Manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan (Roma 3:23).  Sadarkah Saudara jika hal itu merusak cara pikir kita?  Hati kita menjadi keras sehingga Tuhan harus memberi hati yang baru dan roh yang baru.  Tuhan mengasihi manusia sehingga Ia berinisiatif untuk membuka jalan supaya manusia bisa kembali kepada-Nya.  Tidak ada inisiatif yang berasal dari manusia.  Kita hanya beriman dan itu membuat kita bisa bertemu dengan dengan Tuhan.  Kelahiran kembali adalah permulaan kita bisa berhubungan dengan Tuhan dan kita akan disebut sebagai anak jika kita terus berhubungan dengan-Nya. 
Dalam pernyataan Bill Johnson disebutkan ada pewahyuan, perjumpaan dengan Tuhan, kuasa, dan tujuan.  Kita mendengar, melakukan, dan menghasilkan. 

Suatu hubungan pasti menghasilkan, sedangkan bentuk tidak menghasilkan.  Kita bisa berjumpa dengan Tuhan karena ada orang yang memberitahukan kepada kita.  Setelah itu, baru kita memperoleh kuasa.  Kemudian baru hidup kita ada tujuan.  Kita bertobat dan dilahirkan kembali karena ada yang menyatakan.  Orang itu diutus, datang, dan menyatakan kepada kita, bukan melalui media. 
Waktu kita baca ayat di 1 Korintus 4:1,  kita harus tangkap ayat ini dengan spirit.  Oleh karena itu, kita harus dilahirkan kembali supaya memiliki spirit itu.  Tuhan memberikan rahasia kepada kita.  Sedangkan kepada  orang di luar sana Tuhan memberi perumpamaan.  Itupun belum tentu mereka mengerti karena mereka belum tentu menginginkan. 
Rahasia tidak sembarangan diberikan.  Di Alkitab dikatakan rahasia diberikan kepada jemaat-Nya, tidak bisa semua orang.  Di Yohanes 7:14-18 berbicara tentang kesaksian Yesus tentang diri-Nya.  Orang Yahudi tahu bahwa Yesus hanya seorang tukang kayu, tapi Dia memiliki pengetahuan sedemikian hebat tanpa belajar.  Lalu apa rahasianya?  Mari kita lihat di ayat 16, “…Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku”.  Inilah pewahyuan dan kuasa.  Mengapa Yesus berbeda?  Karena Dia bertemu dengan Tuhan, dan berkata bahwa ajaran-Nya bukan berasal dari diri-Nya sendiri.  Dalam Amsal 29:18 dikatakan berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.  Maksud hukum di ayat ini adalah Tuhan.  Paulus menjadi orang yang berbeda karena perjumpaan dengan Tuhan dan dia juga menerima kuasa.  Apabila kita sudah dewasa (secara rohani) maka kita akan tahu perkataan Yesus berasal dari Tuhan atau diri-Nya sendiri.  Manusia jika tanpa Tuhan maka hidupnya hanya untuk dirinya sendiri.  Mencari hormat untuk dirinya sendiri.  Namun barangsiapa mencari hormat bagi Dia maka ia benar dan tidak ada ketidakbenaran di dalam dia. 
Inilah cara pandang Tuhan ketika melihat seseorang (1 Kor 2:1-2).  Tuhan tidak melihat masalahnya, tetapi Dia melihat Kristus yang ada pada orang itu.  Begitu juga dengan kita jika kita memiliki cara pandang seperti Tuhan.  Jika kita bertemu dengan orang yang bermasalah dan masalah itu selesai maka kita tidak akan memikirkan lagi masalahnya karena kita melihat Kristus yang di dalam dia.  Kita tidak perlu membuat peraturan dan berkata “jangan lakukan lagi” karena tanpa kita berkata seperti itu Tuhan sudah berbicara kepadanya.  Paulus berkata ia datang dalam kelemahan kepada jemaatnya, tetapi sebenarnya rohnya kuat (1 Kor 2:3-5).  Secara daging ia lemah, tapi secara Roh ia kuat.  Mengapa?  Karena perkataan Paulus tidak disampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh.  Iman kita juga jangan bergantung pada hikmat manusia.  Apabila seseorang berjumpa dengan Tuhan, imannya pasti bergantung pada Tuhan.  Kuncinya adalah merendahkan diri karena sifat manusia suka mengatur (1 Kor 4:6).  Merendahkan diri dan biarkan Tuhan yang mengatur.  Selain itu, manusia harus ditegor karena kecenderungan manusia jalan sendiri (1 Kor 4:14).  Kita sekarang bisa beriman bukan karena Darwin, tapi kita tahu bahwa apa yang ia bagikan berasal dari Yesus Kristus (1 Kor 4:15-17).   
Karena ada pemberitaan Injil maka kita diselamatkan (Wahyu 12:10-11).  Ada orang yang diutus.  Pertama keselamatan, kedua kita menerima kuasa (sama seperti pernyataan Bill Jonson).  Yang ketiga adalah pemerintahan Tuhan kita.  Kalau kita sudah di dalam jemaat Tuhan, kita tidak mudah diserang oleh Iblis karena ada pemerintahan Tuhan kita.  Yang terakhir yaitu kekuasaan yang diurapi-Nya.  Ini adalah orang-orang yang memiliki Kristus di dalam mereka.  Jika kita perhatikan, banyak gereja sudah kehilangan pemerintahan Tuhan kita yaitu kerasulan.  Banyak gereja berdiri karena konsep atau doktrin.  Gereja seperti itu berbeda dengan gereja yang dimulai dari satu orang diutus karena pewahyuan.  Sumbernya adalah Yesus.  Oleh karena itu, hidup yang kekal yaitu kita mengenal satu-satunya Tuhan yang benar dan Yesus yang diutus. 
Bagaimana bisa orang Farisi dikatakan Yesus tidak tahu kitab suci  (Mat 22:29)?  Sebenarnya arti kata mengerti di ayat ini dari bahasa aslinya adalah pengalaman pribadi (berjumpa dengan Tuhan).  Tidak mengerti berarti tidak berjumpa dengan Tuhan.  Seperti yang tertulis di Yohanes 5:39-40, tidak mengalami sama dengan tidak lahir kembali.  Kita bisa tahu apa yang tertulis, tapi tidak mengalami apa yang tertulis seperti orang Farisi itu.  Oleh karena itu, berbeda apa yang diajarkan oleh pemimpin-pemimpin yang diurapi dengan pemimpin yang hanya mengajar saja.  Mari lihat perbedaannya. 

Belajar tapi tidak melakukan hanya membuat kita menjadi agamawi.  Apabila yang dibagikan bukan pewahyuan dan bukan karena perjumpaan dengan Tuhan maka itu akan membuat kita menjadi agamawi.  Jika kita pulang dari gereja dan tidak melakukan apa yang dikotbahkan maka kita akan jadi orang agamawi.  Nikodemus seorang pemimpin agama tapi tidak pernah berjumpa dengan Tuhan.  Sedangkan perempuan Samaria, yang punya lima suami dan yang tinggal dengannya bukan suaminya, ia mencari keselamatan itu dan ia menemukannya.  Ia berjumpa dengan Tuhan.  Nikodemus berjumpa dengan Tuhan secara jasmani, tapi tidak secara roh.  Perempuan Samaria bertemu dengan Yesus secara jasmani dan ia juga bertemu dengan Tuhan yang adalah roh.
Selanjutnya inilah buah dari apa yang kita dengar.  Kita pergi karena kita diutus sehingga bukan hanya dengan kata-kata pengajaran, tapi dengan kuasa (Mat. 4:23, 9:35).  Pertama adalah mengajar, kedua memberitakan Injil kerajaan Tuhan (memberitakan tentang Yesus), ketiga melenyapkan penyakit dan kelemahan (demonstrasi).  Jika ketiga hal di atas tidak terjadi maka kita bukan hamba-hamba Tuhan yang pergi dengan kuasa.  Kita yang perkatakan, tapi Tuhan yang lakukan (Yoh. 14:10).  Memang kita yang mengusir setan, melenyapkan kelemahan, tapi sebenarnya Yesus yang lakukan.  Secara rohani kita melihat bukan kita lagi yang lakukan, tapi karena ada kuasa supranatural.  Secara duniawi, kita perlu berhikmat apabila berurusan dengan mamon.  Jangan kita  kuatir dengan hal jasmani.  Itu urusan Tuhan. Yang menjadi bagian kita adalah cari kerajaan Tuhan dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambahkan.  Yang harus kita lakukan adalah bagian kita dan kobarkan karunia-karunia roh.

Khotbah:
Darwin Egan Lontoh
Jubilee Semarang

Kekayaan Orang-Orang Terpilih

Kekayaan Orang-Orang Terpilih

Kita akan berbicara tentang harta pusaka orang-orang terpilih.  Apakah kita sudah memastikan bahwa kita adalah orang yang terpilih?  Kita harus berani memastikan hal itu dalam hidup kita.  Syarat untuk menjadi bagian dari orang-orang yang terpilih adalah kita harus dilahirkan kembali.  Tanpa kelahiran kembali kita tidak bisa menjadi bagian dari orang-orang terpilih, meskipun kita bisa mendapat banyak mujizat.  Seperti 10 orang kusta, hanya 1 yang kembali untuk memuliakan Tuhan. 9 mendapat kesembuhan secara fisik, tetapi setelah itu hidup seenaknya.  Di dalam Markus 10:17-18 ada cerita tentang anak muda kaya yang menginginkan hidup yang kekal.  Anak muda itu berlari-lari kepada Yesus untuk mendapat jawabannya.  Satu yang dia inginkan yaitu hidup yang kekal.  10 hukum Taurat sudah ia lakukan (bukan akan lagi), tapi hidup kekal tidak ada pada dia (Mark. 10:19-20).  Anak muda ini mencari sesuatu yang lebih daripada yang ditawarkan oleh dunia yaitu hidup yang kekal.  Lalu dia bertemu dengan sumbernya yaitu Yesus, tetapi Yesus belum berikan karena ada syarat yang harus dilakukan.  Tidak cukup kita punya keinginan saja, tapi kita harus sungguh-sungguh membayar harganya.  Ayat 21, ada syarat yang harus dipenuhi dan jangan dikurangi (Mark. 10:21).  Kalau kita sungguh-sungguh menginginkan kekayaan orang-orang terpilih itu nyata, ya ini syaratnya yaitu serahkan seluruhnya kepada Tuhan dan ikut Dia.  Banyak orang tidak mau melakukan syarat ini sehingga mereka hanya menjadi pendengar saja.  Kemudian setelah anak muda itu mendengar syaratnya, dia menjadi kecewa.  Dia berpikir bahwa syaratnya terlalu besar (Mark. 10:22).  Lalu ia pergi dan sedih karena banyak hartanya.  Pikirannya dicurahkan ke situ (hartanya), bukan kepada kerajaan Tuhan.  Sekarang pertanyaannya, seberapa besar kita menghargai kekayaan ini?  Setelah itu murid-murid Yesus sampai gempar melihat peristiwa anak muda itu.  Mereka bertanya kalau begitu siapa yang dapat diselamatkan (Mark. 10:23-27).  Bagaimana dengan kita?  Apakah kita juga serius memikirkan hal ini (hidup yang kekal)?  Apakah kita serius memikirkan tentang kerajaan-Nya?  Atau kita malah bersungut-sungut?  Kemudian anak muda itu akhirnya kandas.  Masalahnya yaitu pada membayar harganya.  Kalau kita orang yang terpilih, kita tidak bisa santai-santai saja, yang penting sudah lakukan ini itu.  Sesungguhnya yang penting adalah mentaati Tuhan. 
Di Matius 13:44, harga untuk mendapatkan hal kerajaan sorga sama seperti cerita di atas yaitu menjual seluruhnya.  Ini yang harus kita lakukan untuk mendapatkan kerajaan sorga.  Dalam Lukas pasal 14 dikatakan barangsiapa tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya ia tidak dapat menjadi murid Kristus.  Ada daging, sistem dunia, dan Iblis,  ini semua yang harus kita taklukkan di bawah kaki Kristus. 

Ada 2 bagian harta kita waktu kita sudah bertobat dan dilahirkan kembali:
1. Bagian dalam yaitu Tuhan sendiri. 
Abraham mendapat visi, penglihatan, atau tujuannya Tuhan dan ia tidak takut karena Tuhanlah perisainya (Kej. 15:1).  Sama halnya dengan kita, kalau kita orang yang terpilih, jangan takut karena Tuhanlah perisai kita.  Harta ini yaitu Tuhan sendiri jangan sampai hilang.  Bodoh sekali jika kita menanyakan di mana Tuhan waktu kita di dalam suatu masalah.  Tuhan adalah perisai kita.  Paulus pun berkata “jika Tuhan di pihakku siapa yang menjadi lawanku?”.  Tuhanlah yang menjadi milik pusaka orang-orang Lewi (Ulangan 18:2).  Mereka tidak mempunyai milik pusaka karena Tuhanlah milik mereka (Yeh. 44:28). Anak muda yang kaya tadi tidak memiliki hal ini yaitu Tuhan.  Harta bagian ini yang sering diuji dalam segala situasi.  Kalau itu terjadi kembalilah kepada Tuhan karena Dialah perisai kita, penolong kita. 

2. Bagian luar yaitu bangsa-bangsa, jiwa-jiwa.
Kapan terakhir Saudara meminta bangsa-bangsa (Mazmur 2:8)?  Tuhan menyuruh kita untuk meminta bangsa-bangsa dan mengapa kita tidak meminta?  Apakah mungkin Saudara malah meratapi nasib daripada meminta bangsa-bangsa?  Ayat ini sama seperti ayat di Matius 28:19-20.  Dalam 1 Tesalonika 2:19, Paulus berkata bahwa sukacitanya di hadapan Tuhan adalah kamu.  Siapakah kamu?  Yaitu jiwa-jiwa yang diselamatkan dan menjadi orang-orang pilihan Tuhan.  Kalau kita sadar maka kita akan bangkit untuk memberitakan Injil kepada orang-orang karena mereka adalah harta yang sangat berharga.  Baik atau tidak baik waktunya beritakanlah Injil.  Paulus hatinya begitu serius, meski dia berjualan tenda tapi hatinya sungguh-sungguh untuk jiwa-jiwa (Filipi 4:1).  Itu adalah hartanya Paulus dan dia benar-benar menjaganya.  Lalu bagaimana dengan kita masihkah kita menjaganya atau sudah teralihkan dengan harta dunia? 
Untuk mendapatkan harta ini kita harus bertobat dan dilahirkan kembali.  Dalam Yohanes 3:1-2, Nikodemus melihat apa yang Yesus kerjakan dan ajarkan.  Dia mungkin sudah banyak mendengar tentang Yesus dari banyak orang, tapi kemudian akhirnya dia menemui Yesus secara langsung.  Waktu Nikodemus terus mencari jawaban dari apa yang dia lihat, Yesus hanya menjawab bahwa ia harus dilahirkan kembali (Yoh. 3:3). 

Jika Saudara ingin melihat, masuk, dan memiliki kerajaan sorga maka Saudara harus dilahirkan kembali.  Namun di situ Nikodemus sudah mempunyai pengertian sendiri, pengertian yang salah (Yoh. 3:4).  Kita perlu memberitahukan kepada orang supaya mereka tidak di dalam pengertian mereka sendiri.  Zaman sekarang banyak terjadi penyimpangan tentang nama Yesus.  Di Matius pasal 16, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “siapakah Aku ini?”  Jawab mereka ada yang berkata Yeremia, Elia, atau salah satu dari nabi.  Bagi manusia pertanyaan itu sudah terjawab, tetapi bagi Tuhan belum terjawab.  Apakah penginjilan kita hanya sampai di situ saja?  Maksudnya Yesus hanya menjadi salah satu dari nabi.  Kita harus sampaikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, itulah penginjilan kita.  Kelahiran kembali berbicara tentang pekerjaan roh bukan pekerjaan daging (Yoh. 3:5-7).  Pemikiran-pemikiran yang dari Nikodemus adalah pemikiran daging, tetapi Yesus menjelaskan hal-hal yang berasal dari roh, yang kekal sifatnya.  Orang yang dilahirkan kembali seperti angin, kita tidak tahu kapan waktunya dan Tuhanlah yang mengerjakannya (Yoh. 3:8).  Bagian kita adalah memberitakan Injil baik atau tidak baik waktunya.  Nikodemus mencari kemungkinan yang dari manusia padahal  kemungkinan ini datangnya dari Tuhan (Yoh. 3:9).  Ia seorang pengajar Israel, tapi tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus (Yoh. 3:10-15).  Sudah banyak tanda, mujizat, tapi masih tidak mengerti.  Kemudian di Yohanes 3:16, tidak salah dengan ayat 16, kalau Tuhan memberi pengertian dan orang-orang menerimanya.  Mereka harus dilahirkan kembali untuk menerima hidup yang kekal ini. 
Selanjutnya berbicara tentang manifestasi dari harta pusaka ini.  Kita adalah orang-orang yang sudah bertobat dan dilahirkan kembali dan hal ini harus terus menjadi kesaksian dalam hidup kita.  Kita akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kita (Kis. 1:8).  Kuasa ini akan bekerja dan kita akan menjadi saksi-saksi Yesus.  Tuhan memberikan kuasa untuk menyertai kita pergi (Mat. 28:18-20).  Di manapun, kita bisa memanifestasikan karena kuasa ini menyertai.  Kuasa itu sudah ada pada kita dan bekerja.  Jangan mau disimpangkan. 
Di Wahyu 12:10, ada suara-suara yang dinyatakan oleh Roh dan Yohanes bisa mendengarnya.  Apakah kita bisa mendengarnya?  Sekarang telah tiba keselamatan, kuasa, pemerintahan Tuhan kita, dan kuasa Dia yang diurapi-Nya.  Keselamatan berbicara hidup yang kekal, selamat dari dosa yang membawa kita kepada maut.  Kuasa dan pemerintahan Tuhan kita berbicara Iblis-Iblis akan pergi.  Kuasa Dia yang diurapi-Nya yaitu kita sudah dilahirkan kembali makanya kita telah diurapi. 
Kita bisa menemukan orang-orang yang melakukan mujizat demi nama Yesus, tapi hidupnya tidak benar, penuh dengan dosa (Mat. 7:22-23).  Pertanyaannya, mengapa Yesus tidak berterus terang dalam perjalanan mereka yang terus melakukan banyak mujizat?  Karena yang mereka lakukan adalah melakukan kehendaknya sendiri.  Mereka maunya mengatur Tuhan, bukan diatur oleh Tuhan.  Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, mau melepaskan segala sesuatu, dan mengikut Yesus baru Ia akan berterus terang. 
Kita bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar, itu pernyataan roh, dan kita pasti bisa.  Kuasa sudah diberikan waktu kita bertobat dan dilahirkan kembali.  Waktu iman bekerja dan kita percaya itu bisa terjadi maka itu akan terjadi. 
Dalam Wahyu 12:17 dijelaskan bahwa ini peperangan kita dengan Iblis.  Iblis pasti marah ketika kita mengusik kerajaannya dan tawanannya.  Mari cek hidup kita, masihkah kita berperang?  Atau kita sebenarnya sudah tidak berperang, tapi masih merasa berperang.  Iblis berperang dengan perempuan.  Maksud dari perempuan ini yaitu jemaat, orang-orang kudus, orang2 terpilih yang memiliki warisan pusaka yang kekal dari Tuhan.  Di Matius pasal 7 tadi dikatakan “enyahlah kamu sekalian pembuat kejahatan” karena mereka tidak menuruti hukum-hukum Allah dan tidak memiliki kesaksian Yesus Kristus.  Kita yang dilahirkan kembali pasti bersaksi tentang Yesus Kristus, dan masihkah sampai sekarang kita memiliki kesaksian itu?  Masihkah kita memanifestasikannya di manapun kita berada?  Orang yang belum dilahirkan kembali tidak memiliki kesaksian Yesus Kristus.  Bagi kita yang sudah memilikimya, ya teruslah bersaksi dan memanifestasikannya karena itu pasti akan membuat kita semakin bersemangat dan melihat lebih lagi yang mustahil bagi manusia. 
Ini yang bisa membuat kita masuk sorga yaitu melakukan hukum-hukum Tuhan dan menjaga kesaksian Yesus Kristus.  Kalau kita lama tidak memberitakan Injil, keselamatan kita bisa hilang.  Hal ini sudah menjadi tanggung jawab kita yang memiliki kesaksian Yesus.  Waktu Injil diberitakan, manifestasinya semakin nyata, dan banyak orang bertobat, rasul-rasul berusaha ditahan oleh majelis agama (Kis. 4:18).  Kalau sampai berita ini berhenti di dalam kita berarti kita sudah ditawan oleh Iblis.  Kita harus terus memanifestasikan nama Yesus karena ini bisa menggoncangkan kerajaan Iblis, dunia, dan orang-orang. 


Khotbah:
Hosea Hartono
Jubilee Semarang

Wednesday, 16 July 2014

Roh Kudus dan Kuasa daripada Roh Kudus

Roh Kudus dan Kuasa daripada Roh Kudus 
Keinginan Tuhan adalah melakukan lebih dari yang kita minta, kita pikir, dan kita bayangkan, tapi itu semua bergantung pada kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita (Ef 3:20).  Ketika Yesus dibaptis, turunlah Roh Kudus dalam bentuk merpati ke atas-Nya (Luk 3:22-23).  Waktu itu Yesus keluar dari sungai Yordan dan penuh dengan Roh Kudus (Luk 4:1).  Setelah itu, Ia harus pergi ke padang gurun dan di Lukas 4:13-14 dikatakan Ia kembali dengan kuasa daripada Roh Kudus.  Saudara bisa penuh dengan Roh Kudus, tapi belum tentu penuh dengan kuasa dari Roh Kudus.  Jika Saudara belum memiliki kuasa itu, Saudara harus datang secara pribadi kepada Tuhan sampai mendapat kuasa itu.  Yesus diurapi oleh Bapa, Ia diurapi dengan Roh Kudus dan dengan kuasa.  Ada 2 hal yang berbeda yaitu Roh Kudus dan kuasa-Nya.  Jadi tidak cukup penuh dengan Roh Kudus, tapi kita juga harus penuh dengan kuasa.  Tuhan ingin memberikan kuasa kepada kita yang melebihi kuasa manusia supaya kita bisa melakukan pekerjaan-pekerja  an yang lebih besar.  Yesus berkata “lebih baik Aku pergi kepada Bapa karena jika Aku pergi maka Bapa akan mengutus Roh Kudus-Nya kepada kamu”.  Ia ingin kita berkuasa.  Kita bisa membangkitkan orang dari kematian, menyembuhkan orang sakit, dan melakukan mujizat demi mujizat.
Ayat dalam 1 Tawarikh 4:9-10 dikenal sebagai doa Yabes.  Yabes berdoa kepada Tuhan dan ini yang ia serukan:
1. “Berkati aku”.  Ini juga yang seharusnya menjadi doa kita.  Kita tidak perlu malu untuk minta kepada Tuhan supaya Ia memberkati kita.  Dia ingin memberkati kita karena kebenaran yang telah kita terima.
2. “Perluas wilayahku”.  Tuhan ingin memperluas wilayah kita baik secara pribadi maupun secara jemaat.  Meski Kaleb sudah tua berumur 80 tahun, tapi dia berkata bahwa dia kuat dan butuh lebih banyak wilayah lagi.  Biarkan keinginan seperti Kaleb itu menjadi hasrat dari hati kita.  Jangan puas dengan apa yang kita miliki sekarang.  Carilah hal yang lebih, berharap lebih, minta lebih, dan bertindak lebih.
3.  “Biarlah tangan-Mu Tuhan menyertai aku”.  Kita perlu tangan Tuhan ada bersama-sama dengan kita.
4. “Jauhkanlah aku dari malapetaka”.  Dengan kata lain Yabes harus dilindungi dari segala arah.  Kita juga harus berharap supaya Tuhan melindungi kita dari malapetaka, penyakit fisik, setan atau iblis yang menyerang kita, serangan keuangan, hal emosi atau yang bersifat ke keluarga, dsb.
5.  “Menyatakan itu.”  Maksudnya menyatakan bahwa kita harus bebas dari malapetaka.  Mengapa kita harus dilindungi dari malapetaka?  Supaya kita bebas dari rasa sakit.  Entah itu sakit secara emosional, rohani, fisik, maupun keuangan.  Tuhan menjagai kita dari kesakitan-kesakitan itu.
Ada 6 hal sederhana yang dibagikan oleh Michael Hancett:
1. Tuhan mau memperbesar kapasitas kita.  Mengapa?  Supaya kita melakukan lebih bagi kerajaan-Nya karena Ia mau juga kerajaan-Nya diperlebar.    
2. Tuhan mau kita meningkat dalam “kebersihan”.  Maksudnya kita menjadi seperti Yesus di dalam kemurnian.  Kalau kita berdosa, bukan waktu kita berdosa, kita mempunyai pengacara yaitu Yesus.  Ia mempersembahkan kita kepada Bapa tanpa kesalahan apapun.  Di dalam hati yang bersih, Ia ingin kita berjalan di dalam pengampunan satu sama lain seperti Yesus telah mengampuni kita.  Ini yang harus terus kita pilih yaitu mengampuni setiap pagi.  Dalam kitab Mazmur pasal 142 dikatakan “bawalah aku keluar dari penjara supaya aku bisa memuji nama-Mu”.  Jadi, waktu kita terbelenggu kita tidak bisa menyembah nama-Nya.
3.  Tuhan ingin memperbesar kita di dalam area kejelasan.  Dengan kata lain hidup kita harus terfokus.  Ia telah mengatakan kepada kita untuk mengarahkan pandangan mata kita hanya kepada Yesus.  Pikiran kita pun harus terfokus kepada Yesus.  Jika teman kita berkata mau berdosa, kita katakan tidak karena kita mau terfokus kepada Yesus.  Jika teman kita bergosip atau berkata tentang sakit penyakit, katakan tidak karena kita mau terfokus kepada Yesus dan tidak mau berpikiran seperti itu.  Hidup kita terfokus untuk melakukan kehendak Bapa.  Hiduplah untuk hal-hal yang akan datang bukan untuk masa lalu.  Tuhan tidak memanggil kita untuk hal-hal yang kecil.  
4. Kita harus bertumbuh dalam kepercayaan diri.  Ada sebuah istilah mengatakan bahwa orang benar itu berani seperti singa.  Terkutuklah orang-orang yang bergantung pada kekuatannya sendiri (Yer 17:1-5).  Tuhan kita adalah Tuhan yang dapat diandalkan dan dipercayai.
5. Tuhan ingin kita meningkat dalam kecukupan.  Kita cukup dan tidak kekurangan apapun.  Jangan biarkan keadaan membentuk kita.  Paulus berkata “di dalam situasi apapun, aku menetapkan diriku untuk cukup”.  Entah situasi apapun, kita harus menemukan diri kita cukup.
6. Kita harus bertumbuh di dalam konsisten.  Konsisten dan tetap pada jalurnya.  Dalam Matius 5:13 dikatakan Saudara adalah garam dan terang dunia.  Garam kalau kehilangan rasa asinnya, ia jadi tidak berguna.  Tuhan ingin kita memberi rasa di tengah dunia (masyarakat) ini karena kita adalah garam dunia.
Selain memberi rasa, kita juga memelihara dan mencegah segala sesuatu menjadi busuk atau rusak.  Namun terlalu banyak garam bisa membunuh ladang (Hakim-Hakim 9:45).  Kita tidak mau membunuh ladangnya, tapi kita mau menciptakan rasa haus pada ladangnya yaitu rasa haus akan Tuhan.  
Mike Hancett menemukan bahwa rahasia untuk sukses adalah hati.  Ada beberapa cerita berkata kepada kita bahwa sampai pada umur 40 tahun, manusia mencari kesuksesan.  Namun 40 tahun kemudian, dia tidak mencari kesuksesan lagi tapi mencari arti.  Dia tidak berpikir untuk mencari kesuksesan bagi dirinya, tapi bagaimana dia dapat berpengaruh bagi orang lain dan membuat perbedaan dengan yang lain.
Tuhan sedang mencari hati kita.  Apa yang mengendalikan hati kita, mengendalikan kita.  Amsal 4:23 berkata “jagalah hatimu karena dari situ air mata kehidupan”.  Hasrat kita, pikiran kita, rahasia hidup kita ada di dalam hati kita.  Harta berharga kita ada di dalam hati kita.  Dalam 2 Korintus 9:7 berbicara tentang memberi.  Apa yang sudah Saudara tentukan di dalam hati Saudara untuk diberikan, berikanlah itu.  Jangan memberi karena ada orang yang melihat, tapi berilah sesuai dengan apa yang Tuhan tetapkan di dalam hati.  Tuhan memilih Daud, bukan karena ia sempurna.  Tuhan memilih Daud karena Daud memiliki hati yang terus mengejar hati-Nya Tuhan.  Tuhan ingin hati kita terus bersemangat untuk mengejar hati-Nya.
Apa gambaran hati Tuhan?
1. Hati Tuhan adalah hati dari seorang penyembah.  Pikirkanlah perkara-perkara yang di atas.  Menyembahlah dengan intelektual, emosional, dan kreativitas Saudara.  Sembahlah Dia dalam hubungan, keuangan, dan dalam kasih yang tanpa syarat.
2. Carilah hadirat-Nya.  Dalam Keluaran 33:18-19, hal yang sangat penting bagi Musa di dalam hadirat Tuhan adalah “hadirat-Ku akan selalu menyertai engkau”.  Kita harus terus yakin bahwa hadirat Tuhan selalu menyertai kita.  Penyembahan bicara apa yang berkenan di hati Tuhan dan Dia mau memanifestasikan hadirat-Nya yang luar biasa di tengah-tengah kita.
3. Tuhan ingin kita memiliki hati yang berintegritas.  Kita menjadi jujur dan benar di dalam segala area.
4. Tuhan ingin kita memiliki hati seperti seorang raja.  Tuhan mengurapi Daud karena ia memiliki hati yang mengejar hati-Nya Tuhan (1 Sam 16:1-7).
5. Tuhan ingin kita memiliki hati seperti seorang prajurit yang perkasa.  Kita terus menantikan tantangan yang ada di hadapan kita.  Dalam 1 Samuel 17:32, 41-51, 2 Samuel 11:1-26 dikatakan bahwa Tuhan sudah memanggil kita sebagai prajurit-prajurit.  Tuhan tidak memanggil kita hanya sebagai gembala saja, tapi Tuhan sudah memanggil kita sebagai raja, imam, nabi, dan juga prajurit.  Di Mazmur pasal 51, Daud dikatakan sebagai manusia berdosa.  Dan di pasal itu dikatakan Daud meminta supaya ia diberikan hati yang bersih lagi, dipulihkan sukacitanya karena keselamatan itu.  Waktu kita berbuat kesalahan dan dosa, jadilah cepat untuk minta kepada Tuhan supaya membersihkan hati kita karena dosa membawa rasa bersalah dan penghukuman.  Jadi waktu kita bertobat, Tuhan memulihkan kembali sukacita akan keselamatan kita.
Siapapun yang mengendalikan hati Saudara itu mengendalikan Saudara.
1. Hati harus dijaga dan dilindungi.  Hati-hati terhadap siapa yang mengendalikan hati Saudara.
2. Hati harus dipersembahkan atau diberikan.  Saudara memberikan hati Saudara kepada Tuhan.  Selain itu, Saudara memberikan hati Saudara kepada satu sama lain.  Di 1 Korintus pasal 13 tertulis bahwa kasih mempercayai segalanya.
3. Hati harus dipersiapkan.  Di Mazmur 75:8, 108:1, berbicara bahwa hati kita dipersiapkan bagi Tuhan.  Kita perlu membersihkan hati kita dari hal-hal yang menghalangi hati kita.  Persiapkan hati kita sebagai tanah yang subur akan firman Tuhan.
4. Hati kita harus murni.  Diberkatilah mereka yang murni hatinya karena mereka akan melihat Tuhan (Mat 5:8).
5. Hati kita harus di bawah keTuhanan Yesus Kristus.  Tunduklah di bawah keTuhanan Yesus Kristus.
6. Hati perlu ditegakkan di atas firman Tuhan.  Dalam Mazmur pasal 119 tertulis “firman-Mu aku sembunyikan di dalam hatiku supaya aku tidak berdosa terhadap Engkau”.  Firman Tuhan tidak hanya ada dalam pikiran kita saja, tapi hati kita juga.  Itu yang akan menjagai dan memelihara kita supaya kita tidak berdosa.
7. Hati kita perlu berlimpah.  Kita perlu mencurahkan hati kita kepada Tuhan supaya hati kita penuh dengan sukacita.
8. Hati perlu diarahkan.  Tuhan akan memberikan arahan di dalam hati kita (Amsal 4:21).  Apapun yang kita lakukan, lakukanlah bagi kemuliaan Tuhan (Kol 3:15-17).  Jangan mempersulit arahan daripada Tuhan.
9. Hati perlu dipercayai.  Kita juga perlu hati yang mempercayai satu sama lain (Yoh 14:1).  Kita memiliki hati yang percaya kepada Tuhan dan percaya kepada teman.  Selain itu, Tuhan ingin kita bisa dipercaya.
10. Hati perlu dikuatkan.  Mengapa hati kita perlu dikuatkan?  Karena Iblis selalu menantang pikiran kita.  Dia selalu menantang emosi kita, bahkan juga menyerang secara fisik.  Bergembiralah karena Tuhan, Ia akan memberikan apa yang menjadi keinginan hatimu (Maz 37:3-9).  Tuhan yang menaruh keinginan hati di dalam kita dan kemudian Dialah yang akan mewujudkannya.  Kita berpikir kita yang membawa hati kita untuk bangsa-bangsa.  Padahal sebenarnya Tuhan yang menaruh dalam kita untuk menjadi sebuah keinginan hati.  Sekarang pertanyaannya, apa atau siapa yang mengendalikan hati Saudara?  


Khotbah
Mike Hancett - Amerika

Thursday, 12 June 2014

Deklarasi Youth for Jokowi


Deklarasi YOUTH FOR JOKOWI


Hari, tanggal       : Sabtu 21 Juni 2014

Waktu                   : 11.00 wib – selesai

Tempat                : Gedung Panti Marhaen Jl Brigjen Sudiarto Semarang