LTT 2015

Jubilee Indonesia.

Go make desciple

Jubilee Indonesia.

LTT 2015

Jubilee Indonesia.

We are Jubilee

Jubilee Indonesia.

Heaven or hell?

Jubilee Indonesia.

Showing posts with label Warta Jemaat. Show all posts
Showing posts with label Warta Jemaat. Show all posts

Monday, 11 January 2016

Firman Tuhan

Firman Tuhan

PEMBACAAN Alkitab di tahun 2015 merupakan pembacaan yang luar biasa, tapi tidak banyak dari jemaat yang menyelesaikan pembacaan Alkitab selama satu tahun itu. Bagi Saudara yang sungguh-sungguh dalam berkomitmen dan hidup dalam kebenaran, menyelesaikan pembacaan tersebut bukanlah hal yang sulit. Mari Saudara, jangan menjadi biasabiasa dalam pengejaran akan Tuhan. Dalam Filipi 3:3 dikatakan kita harus menjadi orang-orang yang bersunat bukan lagi secara Perjanjian Lama tetapi menurut Perjanjian Baru yaitu sunat hati. Semenjak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia harus melakukan sunat secara daging. Sunat bertujuan bukan hanya sekedar melakukan saja tetapi sebuah ketaatan kepada Tuhan sehingga orang yang melakukannya akan diberkati. Pada waktu Abraham bersunat, orang-orang yang tinggal di rumahnya
juga harus bersunat. Sunat adalah sebuah tanda perjanjian dengan Tuhan.

Selanjutnya berbicara tentang percaya. Mengapa kita bisa percaya? Kita bisa percaya bukan lagi karena diri kita, tetapi karena Tuhan sudah terlebih dahulu mengatakannya bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Bahkan sesuatu yang paling mustahil bagi manusia tidak menjadi mustahil bagi Tuhan. Bagi manusia, selesai dengan dosa adalah hal yang mustahil meskipun mereka berusaha sedemikian rupa. Tanpa campur tangan Tuhan manusia tidak dapat selesai dengan dosa dosanya. Sejak kita bertobat dan dilahirkan kembali, yang
paling terlihat berbeda adalah Saudara menjadi pribadi yang menghormati firman Tuhan. Kita menjadi orang yang bersunat hati karena kita beribadah kepada Roh Tuhan. Hidup di dalam Roh Tuhan berarti hidup di dalam kemerdekaan karena dimana ada Roh Tuhan di situ ada kemerdekaan (2 Korintus 3:17. Kemudian dalam Roma 10:17 dikatakan bahwa, “…iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

Banyak orang membaca firman tetapi tidak mengerti firman tersebut karena tidak menggunakan iman. Firman Tuhan itu pada mulanya bersama-sama dengan Tuhan, sehingga firman itu menjadi hidup (Yohanes 1:1). Firman Tuhan akan hidup dalam diri kita karena hati kita sudah diubahkan. Firman itu telah menjadi manusia (Yohanes 1:14) sehingga kita bisa hidup di dalam firman itu. Orang yang sudah bertobat lahir baru pasti melihat kemuliaan Tuhan dan tidak akan melepaskan apa yang sudah ia lihat. Jangan sampai kemuliaan Tuhan itu hilang, seperti yang tertulis dalam Matius 5:13 bahwa garam yang sudah tidak asin lagi akan dibuang dan diinjak orang. Pada Kejadian 1:1-3 tertulis Tuhan sudah memulai pada mulanya dengan berfirman. Marilah Saudara instrospeksi diri, bagaimanakah kemuliaan Tuhan yang sudah Saudara miliki?
Di Markus 16:14-15, Yesus menentang ketidakpercayaan dan kedegilan hati murid-murid-Nya karena masih ada murid-muridNya yang tidak percaya. Namun hal yang terpenting adalah kita harus pergi dan memberitakan Injil kepada semua makhluk. Beritanya yaitu tentang pertobatan kelahiran kembali. Dalam
Yeremia 24:7 dikatakan bahwa “Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya.” Hati untuk mengenal Tuhan dapat kita peroleh hanya dengan kelahiran kembali. Jika Tuhan tidak hidup di dalam diri kita, tidak mungkin kita dapat melakukan perintah Tuhan. Bertobat berarti mengikut Tuhan dengan sepenuhnya (100%). Kemudian tanda-tanda yang
bukan lagi dengan kekuatan manusia akan menyertai kita (Markus 16:17-20). Kita dapat melakukan tanda-tanda tersebut karena Tuhan dapat melakukan hal-hal yang mustahil. Firman diteguhkan oleh Tuhan di dalam diri kita melalui tanda-tanda yang menyertai kita. Tuhan beserta dengan orang-orang yang
bersungguh-sungguh.

Saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan mengatakan pada mereka bahwa mereka akan bersusah payah dan bekerja keras hidup di dunia ini. Kemudian pada saat Kain membunuh Habel, di situlah Tuhan pertama kali mengutuk manusia. Kutuk yang terjadi bukan hanya pada kita, tetapi sampai juga kepada anak-cucu kita. Hal yang dapat melepaskan kutuk tersebut adalah dengan pertobatan kelahiran kembali. Penebusan dengan darah Yesus yang dapat melepaskan kutuk itu. Seorang penulis, Andrew Muray mengatakan, kita harus menjadi kuat bukan hanya dengan pemberitaan Injil, tetapi juga dengan doa. Doa adalah permintaan yang bukan lagi untuk diri kita sendiri. Pada ayat di atas dikatakan bahwa akan ada
tanda-tanda yang menyertai (Markus 16:17). Selain itu, “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin” (Wahyu 22:21). Firman ini menjadi hidup karena Yesus juga turun menjadi manusia menyertai kita. Tuhan yang adalah Roh telah turun menjadi manusia, kemudian Ia naik ke sorga dan Roh Kudus turun bagi kita. Firman itu sudah dekat di dalam diri kita (Roma 10:9). Jika kita membaca sebuah quote atau kutipan yang tepat pasti kita akan merasa bahwa kutipan tersebut sangat sesuai dengan
apa yang kita pikirkan. Hal itu berbeda dengan firman yang kita dapat kuat secara spirit (Roh). Firman yang kuat akan membangkitkan spirit yang ada di dalam diri kita. Kembali ke Yeremia 24:7, kita tidak perlu lagi meminta hati yang baru. Kita perlu mengingatkan dalam diri kita supaya kita tidak lupa bahwa hati yang baru itu sudah kita peroleh semenjak kita bertobat dan dilahirkan kembali. Tuhan juga sudah berfirman
bahwa tanda-tanda itu akan menyertai kita. Tanda-tanda itu akan terus meneguhkan firman yang sudah ada dalam diri kita.

Apa yang perlu kita minta adalah supaya kehedak Tuhan terjadi di dalam hidup kita. Keberhasilan kita di dalam Tuhan adalah dengan kita terus mengingat apa yang sudah Tuhan tetapkan di dalam diri kita. Kecenderungan bangsa Israel adalah lupa dengan ketetapan Tuhan karena apa yang menjadi pusat
adalah diri mereka sendiri. Jalan bersama-sama dengan orang yang tidak memikirkan diri sendiri akan lebih menyenangkan. Kita sudah menjadi umat Tuhan dan itu perlu kita ingatkan setiap hari. Apabila Saudara melakukan kesalahan maka selesaikan hal itu, sungguh-sungguh bertobat dan tidak melakukan lagi. Bertobat
bukan hanya sekedar meminta ampun, tetapi sebuah kesungguhan seperti saat kita mengambil keputusan untuk bertobat lahir baru. Segala pengejaran kita harus dilakukan dengan sepenuh hati. Semua firman yang keluar dari mulut Tuhan, tidak akan kembali dengan sia-sia (Yesaya 55:11). Firman itu bisa saja diambil jika firman itu tidak tertanam dalam diri kita. Seperti pada perumpamaan benih yang tumbuh dalam kitab Matius pasal 13. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:1-3).

Ada sebuah buku menulis tentang pepatah Cina yang mengatakan bahwa seorang raja yang berhasil adalah ia yang memiliki penasehat hebat. Pada saat ini kita sudah memiliki penasehat yang luar biasa yaitu Yesus yang telah turun menjadi manusia. Segala firman yang diberikan Tuhan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:15-16). Selanjutnya dalam Ibrani 9:12 dikatakan bahwa firman Tuhan dapat menusuk amat dalam
dan dapat memisahkan antara jiwa dan roh. Jangan sampai kita tertipu dengan hal-hal yang memancing emosional kita.


Kotbah: Darwin Egan Lontoh

Pengertian yang benar di dalam Tuhan

Pengertian yang benar di dalam Tuhan

SEGALA sesuatu yang menjadi penghalang di dunia ini adalah dosa. Dalam setiap kehidupan memerlukan perjuangan, salah satunya dalam sebuah pernikahan. Suatu hal yang mustahil ketika Tuhan tinggal di dalam diri manusia yang begitu bobrok. Socrates adalah seorang filsuf yang menulis sebuah perkataan
mengenai pernikahan. Socrates menulis “Pada akhirnya, pernikahan. Jika kamu memperoleh istri yang baik, kamu akan menjadi bahagia; jika kamu mendapat istri yang buruk, kamu akan menjadi seorang filsuf.” Pernyataan tersebut muncul berdasarkan apa yang dialami oleh Socrates. Setiap persoalan yang terjadi pasti memiliki jalan keluar, tetapi jika jalan keluar berasal dari diri kita sendiri maka ujung-ujungnya akan terusmenerus salah. Kesalahan yang terjadi pada dasarnya karena manusia itu hidup di luar Tuhan (tetap di dalam dosa).

Pernikahan terjadi bukan hanya sekedar mencari kehidupan yang lebih baik. Pernikahan terjadi karena masing-masing mempelai sudah mengalami kegembiraan di dalam Tuhan. Sebuah pernikahan dapat terjadi apabila dua orang mengalami jatuh cinta. Hellen Keller menuliskan bahwa “Apa yang pernah kita nikmati kita tidak akan pernah kehilangan itu. Cinta yang dalam yang pernah kita alami itu menjadi bagian dari kita.”
Sebelum terjadi pernikahan sudah terdapat cinta yang saling mengena satu sama lain. Oleh karena itu suatu pernikahan merupakan perwujudan bahwa mereka bukan lagi dua melainkan satu di dalam Tuhan. Ketika dua pihak menyatukan cintanya maka pernikahan memerlukan sebuah komitmen sampai keduanya dipisahkan yaitu saat dipanggil oleh Tuhan. Iman diperlukan untuk menjalani sebuah pernikahan, tanpa iman
maka sebuah pernikahan akan menjadi kacau. Pernikahan di dalam Tuhan berbeda dengan pernikahan yang dilakukan oleh dunia ini.

“Hikmat yang sejati datang pada setiap daripada kita ketika kita menyadari seberapa sedikitnya pengertian kita tentang kehidupan, diri kita, dan dunia sekeliling kita” (Socrates). Pada saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka tidak mengerti apa itu dosa. Adam dan Hawa hanya mengerti mengenai taat dan tidak taat. Sampai pada akhirnya mereka tidak mentaati Tuhan dan jatuh ke dalam dosa. Saat ini, kita sebagai orang yang sudah mengetahui tentang dosa harus memiliki pengertian yang benar tentang Tuhan. Pada saat ini
banyak orang yang sepertinya sedang berusaha memberikan seminar mengenai sebuah pernikahan, namun sebenarnya orang tersebut dalam pernikahannya juga bermasalah. Apa yang dapat menjaga sebuah pernikahan? Pernikahan dapat dijaga dengan iman. Iman timbul dari pendengaran-pendengaran
akan firman Kristus. Dasar kekuatan dari masing-masing calon pengantin adalah pertemuan mereka dengan Kristus melalui pertobatan dan kelahiran kembali. Perlunya iman dalam sebuah pernikahan karena dengan kekuatan manusia seseorang sulit memberi contoh.

Pada saat Andrie dan Merlyn memutuskan untuk menuju ke dalam sebuah pernikahan, hal tersebut berawal dari masingmasing di antara mereka bertemu dengan Tuhan. Mereka harus mengenal terlebih dahulu siapa Tuhan dalam kehidupannya. Dasarnya adalah bahwa hanya Yesus satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup. Masing-masing pribadi harus dibenarkan terlebih dahulu oleh Tuhan. Dibenarkan berarti diberikan hati
yang baru dan roh yang baru. Tuhan mengambil hati yang keras dan memberi hati yang taat. Selain itu, Tuhan juga memberikan Roh Kudus. Kita harus memiliki hikmat yang benar di dalam Tuhan supaya kita memiliki pengertian yang benar tentang Tuhan dalam kehidupan kita. Terdapat sebuah pernyataan mengenai jatuh cinta, yaitu “Kamu tahu kamu sedang jatuh cinta ketika kamu tidak bisa tidur karena kenyataan pada akhirnya lebih baik daripada apa yang kau impikan” (Dr. Seuss). Pada kenyataannya orang yang jatuh
cinta akan sulit untuk tidur. Begitu juga saat kita jatuh cinta kepada Tuhan, kita akan terus terjaga untuk merenungkan firman Tuhan. Orang yang jatuh cinta dengan Tuhan akan menyenangi sebuah realita bertemu dengan banyak orang. Pada saat jatuh cinta, seseorang rela untuk memberikan apa saja. Apabila cinta
itu sudah pudar, seseorang dapat merasakan kembali jatuh cinta karena ada Tuhan dalam hidupnya. Dalam Matius pasal 18, terdapat seorang yang berhutang banyak kepada raja tetapi pada akhirnya ia diampuni dan hutangnya dibebaskan. Namun, ketika orang tersebut bertemu dengan orang yang berhutang tidak lebih banyak dari dirinya justru ia menyiksa orang tersebut. Ia memaksa temannya itu untuk membayar semua hutangnya. Orang yang berhutang itu menunjukkan bahwa ia suka diampuni tetapi ia tidak dapat mengampuni orang lain. Itulah yang terjadi ketika seseorang hanya mau dikasihi tetapi tidak mau mengasihi. Seringkali, pernikahan terjadi hanya karena ia ingin dikasihi bukan karena ia ingin mengasihi. Dalam hal mengikut Tuhanpun bisa terjadi hal seperti itu. Seseorang hanya mau untuk dikasihi oleh Tuhan tetapi ia tidak mau memberikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Tanpa kasih Tuhan yang murni, seseorang tidak dapat
mengasihi orang lain dengan tulus.

Dalam Matius 18:1-5 dikatakan bahwa satu-satunya jalan untuk hidup dalam kebenaran Tuhan adalah dengan bertobat. Murid Yesus menanyakan siapakah yang terbesar diantara muridmurid-Nya.
Hal tersebut memperlihatkan adanya motivasi bahwa mereka ingin melihat siapa yang terhebat diantara mereka. Dalam sebuah pernikahan, tidak akan ada lagi tuntutan siapakah yang paling berpengaruh dalam pernikahan tersebut. Masing-masing harus memiliki kepolosan seperti anak kecil yang hidup apa adanya. Jika seseorang menginginkan untuk menjadi yang terbesar, ia harus menjadi rendah hati seperti anak kecil.
Anak kecil tidak akan mengatur, ia akan taat kepada apa yang ia senangi. Jika kita hidup dalam Tuhan, kita akan menyenangi hal-hal tentang Tuhan. Hal pertama yang perlu dilakukan supaya kita menjadi seperti anak kecil adalah bertobat. Seperti yang tertulis dalam Matius 4:17, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga
sudah dekat!" Kerajaan Tuhan datang melalui Yesus Kristus, karena barangsiapa yang merendahkan diri ia akan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Mengucap syukurlah dengan apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Namun tidak cukup hanya mengucap syukur saja, tetapi kita juga
harus memberitakan kepada orang lain apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita.


Kotbah: Darwin Egan Lontoh

Hidup dalam kebenaran

Hidup dalam kebenaran

“…Akulah satu-satunya jalan, dan kebenaran, dan hidup…” (Yohanes 14:6). Ayat tersebut merupakan salah satu kutipan ayat yang terkenal. Berdasarkan ayat tersebut yang akan terus diuji hingga akhirnya adalah kebenarannya, seperti ada yang tertulis bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Tidak ada seorangpun yang dapat menjadi benar hanya dengan kekuatannya sendiri. Yesus datang sebagai
contoh dan memberikan jalan kebenaran supaya orang– orang yang datang kepada-Nya beroleh kehidupan. Hal yang terus membuat kita kuat adalah saat ini adalah kebenaran di dalam Kristus.
Dalam 1 Yohanes 1:1-4, Yohanes secara detail menjelaskan bahwa apa yang ia alami dengan Tuhan harus
dialami oleh orang-orang yang mendengarkan kotbahnya. Berulang kali ia menyatakan bahwa apa yang ia peroleh saat ini karena persekutuannya dengan Bapa. Sebelum kita mengalami pertobatan lahir baru, kita memiliki 2 bapa. Yang pertama adalah bapa kita secara daging dan yang kedua adalah Iblis. Tetapi setelah kita bertobat lahir baru bapa yang kita miliki adalah Bapa yang di sorga. Kasih dari Bapa yang di sorga adalah menginginkan orang yang terhilang kembali kepada-Nya. Apakah kasih tersebut kita miliki? Cara kita
memberitakan kebenaran firman Tuhan bukan karena kita kasihan terhadap orang tersebut. Tuhan tidak pernah memerintahkan untuk memberitakan dengan kasihan, tetapi memberitakan dengan berani dan kasih dari Tuhan.

Kebenaran Tuhan yang membuat diri kita terus kuat dan terus hidup bersama dengan Dia. Sukacita yang kita miliki akan menjadi sempurna jika apa yang kita miliki ini dibagikan kepada orang lain.
Kita dilahirkan kembali karena adanya benih ilahi dari firman Tuhan. Orang yang lemah pasti sudah malas untuk membaca Alkitab, sudah tidak ada lagi kebanggaan terhadap Alkitab. Dalam kitab 1 Yohanes terus dinyatakan bahwa kita harus bertobat dan dilahirkan kembali. Bertobat lahir baru berarti kita memperoleh hati yang berasal dari Tuhan. Selanjutnya, di 1 Yohanes 1:5-6 dikatakan jangan pernah berpikir ada kebohongan dan kegelapan dalam firman Tuhan. Banyak orang yang menggunakan firman Tuhan tetapi sebenarnya ia berbohong dan tidak sungguhsungguh hidup di dalam kebenaran firman Tuhan. Seseorang
dikatakan berdusta jika ia mengatakan beroleh persekutuan dengan Tuhan tetapi masih hidup dalam kegelapan dan tidak hidup dalam kebenaran. Hari ini kita dapat memiliki kebenaran tetapi belum tentu besok kita masih memiliki kebenaran tersebut. Oleh karena itu, kita perlu Roh Kudus untuk terus memimpin kita hidup dalam kebenaran. Hanya Roh Kudus yang mengerti tentang kebenaran. Iblis tidak pernah mengerti apa itu kebenaran. Banyak orang Kristen yang mengetahui kebenaran, tetapi belum tentu ia hidup dalam kebenaran. Kita dikatakan hidup benar bukan hanya saat kita mengetahui kebenaran, tetapi ketika kita melakukan kebenaran tersebut. Kita menjadi bersemangat dalam memberitakan Injil karena kita hidup dalam kebenaran, bukan sebagai orang yang hanya diupah dalam memberitakan Injil.

Banyak orang yang percaya setelah mendengarkan Yesus berkotbah saat itu (Yohanes 8:30). Namun dalam Yohanes 8:31-32 dikatakan, “…Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Yesus mengatakan hal tersebut kepada orang Yahudi yang percaya. Orang yang melakukan kebenaran pasti akan bersaksi. Tidak hanya itu saja, bahkan orang dapat dikuatkan karena kehadiran seseorang yang penuh akan hadirat Tuhan. Kebenaran Tuhan perlu untuk kita hidupi sehari-hari, bukan hanya sekedar kita ketahui saja.
Kebenaran dapat bekerja jika kita lahir dari Tuhan(1 Yohanes 1:7-9). Barangsiapa yang lahir dari Tuhan ia tidak berdosa lagi. Tidak ada yang dapat melakukan kebenaran tanpa terang Tuhan turun dalam diri kita. Orang yang memberitakan firman tanpa urapan adalah penyesat. Banyak orang yang menutupi dirinya dengan kebaikan dalam hidup beragama, tetapi sebenarnya hatinya tidak memiliki kebenaran. Kemudian di 1 Yohanes 2:28-29 dijelaskan bahwa kita memberitakan Injil karena kita berbuat kebenaran. Kita
memberitakan Injil bukan hanya karena kita disuruh, tetapi karena kita berbuat kebenaran Tuhan. Dalam 1 Yohanes 3:1- 2, 6-10 dikatakan kita adalah anak-anak Tuhan yaitu kita yang mengenal Dia karena kita mendengar kebenaran. Jika Saudara hidup di dalam Dia maka Saudara harus hidup di dalam kebenaran-Nya yaitu tidak berbuat dosa lagi. Orang yang diurapi akan berbuat kebenaran. Tidak ada pendosa
yang dapat berbuat kebenaran, pendosa dapat berbuat baik tetapi ia tidak bisa berbuat kebenaran. Jika orang yang sudah bertobat lahir baru melakukan ketidakbenaran, lalu bagaimana Roh Kudus dapat bekerja? Roh yang sudah diberikan dalam diri kita memberikan kuasa dan kebenaran. Iblis akan terus menipu manusia supaya manusia tidak berbuat kebenaran. Itulah pekerjaan Iblis bahwa apa yang ia lakukan membuat manusia melakukan dosa secara terus menerus. Saudara dapat mengetahui banyak hal mengenai kebenaran namun tanpa urapan dan Roh Kudus, Saudara tidak dapat berbuat kebenaran. Maka apa yang kita lakukan
bukan karena usaha kita sendiri tetapi karena kasih karunia Tuhan. Pada saat ini janji Tuhan sudah ada di dalam diri kita dan kita harus mengetahui hal tersebut. Jika kita tidak mengetahui janji Tuhan yang ada di dalam diri kita maka kita akan menjadi lemah.

Kita yang berasal dari Tuhan harus memberitakan kepada dunia bahwa saat ini dunia sedang berada dalam kuasa si jahat (1 Yohanes 5:18). Kita tahu bahwa orang yang lahir dari Tuhan tidak berbuat dosa lagi dan akan melakukan kebenaran. Manusia tidak dapat membela dirinya untuk membuktikan diri hidup dalam kebenaran. Tuhan yang tahu bagaimana kita melakukan hidup benar di hadapan Tuhan. Tanpa kita dibenarkan oleh Tuhan maka kita tidak dapat melakukan-kebenaran. Karena itu, kita perlu pernyataan Tuhan setiap hari untuk hidup di dalam kebenaran Tuhan. Kita dapat berbuat kebenaran karena iman kepada Tuhan. Di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Mari kita beritakan kebenaran kepada orang lain karena jika kita tidak memberitakan kebenaran lagi maka kita akan banyak melihat kepada diri
kita sendiri. Kita adalah orang-orang yang berbuat kebenaran. Kita harus tahu bahwa orang yang lahir dari
Tuhan, ia akan berbuat kebenaran. Orang yang berbuat kebenaran adalah orang yang hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh. Selanjutnya dalam 1 Korintus 3:16-18 tertulis dimana ada Roh Tuhan di situ ada kemerdekaan. Kebenaran yang diberikan Roh Tuhan akan membawa kemerdekaan. Hal tersebut yang dicari oleh banyak orang yaitu kemerdekaan di dalam Tuhan tanpa selubung yang menutupi. Marilah kita
menjadi pelaku kebenaran karena kita mencerminkan gambaran Tuhan dalam diri kita.

Kotbah: Darwin Egan Lontoh

Pernikahan

Pernikahan

Dalam Efesus 5:22-27, seorang istri tunduk kepada suaminya bukan karena ia hanya mengasihi suaminya. Seorang istri tunduk kepada suami, karena ia tunduk kepada Tuhan. Sepasang suami istri perlu melihat lebih jauh dari apa yang terlihat baik di hadapanya. Suami istri harus melihat bahwa apa yang mereka lakukan adalah seperti yang dilakukan Kristus kepada jemaat-Nya. Laki-laki dan perempuan sudah jelas memiliki banyak hal yang berbeda. Namun saat dipersatukan oleh Tuhan sebenarnya manusia sudah tidak bisa menuntut satu sama lain karena sudah menjadi satu daging. Seseorang harus mengasihi orang lain sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri karena dalam pernikahan hidup sudah tidak lagi untuk diri sendiri.

Komunikasi merupakan hal yang penting dalam sebuah pernikahan. Suami istri akan menemukan bagaimana sebuah komunikasi yang dapat dipahami antara keduanya. Kebahagiaan seorang istri adalah pada saat ia melakukan yang terbaik apa yang menjadi bagiannya. Pada saat melakukan apa yang menjadi bagiannya hal itu bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu seorang istri harus memperoleh pengertian akan hidup tunduk kepada suami. Suami istri perlu saling mempelajari bagaimana pola pikir dan cara hidup pasangannya, karena pada dasarnya sudah dipersatukan untuk bersama-sama oleh Tuhan. Perbedaan yang terjadi terkadang membuat suami istri gagal untuk berkomunikasi.

Pertengkaran terjadi karena ada hal sepele yang tidak diselesaikan. Pasangan suami istri pasti ingin mencapai kebahagiaan. Masing-masing pasangan memiliki cara sendiri untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Saling menerima pasangan satu sama lain merupakan hal yang perlu dilakukan dalam sebuah pernikahan. Banyak perbedaan yang akan terjadi dalam pernikahan. Tetapi yang mempersatukan hal tersebut jika seorang istri mengetahui bahwa dasarnya bukan hanya karena suami mengasihi istri. Seorang istri yang semangat dan berbahagia karena ia sudah menemukan Tuhan dalam kehidupannya. Pernikahan yang dilewati perlu
iman kepada Kristus dan takut akan Tuhan dengan kasih untuk saling menghormati satu sama lain. Setiap hari suami maupun istri harus menjadikan dirinya serupa dengan Kristus sehingga perbedaan yang terjadi akan membuat pasangan saling melengkapi. Tuhan akan terus meneguhkan komitmen suami dan istri sampai pada akhirnya dengan proses yang luar biasa.

Kotbah: Silviana Lontoh

Pernikahan

Pernikahan

KEBAHAGIAAN bisa kita dapatkan jika kita memperoleh hal yang luar biasa dari Tuhan. Hal yang luar biasa tidak didapatkan dengan mudah begitu saja. Sebuah pernikahan merupakan kebahagiaan, tetapi banyak juga tantangannya. Dalam Kejadian 2:21-22 dikatakan bahwa pada saat ini pertama kalinya perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam dan Tuhan membawa Hawa kepada Adam. Saat
Adam pertama kali melihat Hawa, yang ia katakan adalah "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." (Kejadian 2:23). Kebanyakan pasangan yang telah menikah, mereka tidak mengatakan hal tersebut saat pertama kali
bertemu. Adam melihat Hawa dari kedalaman hatinya, bahwa Hawa diciptakan untuk menjadi satu dengan Adam (Kejadian 2:24). Suatu hal yang sempurna bukan dilihat dari parasnya, Kecocokan bukan berasal dari fisik, tetapi dari pernyataan yang berasal dari kedalaman hati. Sebuah hal yang tidak kita sangka jika datang tiba-tiba akan terasa hingga ke tulang-tulang, begitulah saat kita memperoleh kasih yang paling besar.

Ketika Tuhan menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden, Hawa memberikan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat kepada Adam. Setelah mereka berdua memakan buah tersebut, mereka menjadi malu. Pada saat itu belum ada orang lain, hanya mereka berdua tetapi mereka dapat menjadi malu. Rasa malu dapat terjadi karena mereka kehilangan kasih yang berasal dari Tuhan dan digantikan dengan hawa nafsu daging. Apa yang terjadi saat itu membuat Adam menyalahkan Hawa yang sudah Tuhan tempatkan baginya. Hal tersebut juga terjadi ketika pasangan suami istri menemukan kesalahan diantara mereka, pada akhirnya mereka pasti saling menyalahkan. Tuhan menginginkan hubungan manusia kembali kepada-Nya
dengan utuh dan tidak bercacat kerut.

Tuhan menciptakan perempuan karena didapati bahwa tidak baik Adam seorang diri saja, Tuhan memerintahkan supaya manusia beranak cucu dan bertambah banyak untuk memenuhi bumi. Jadi tujuan manusia dipertemukan dengan perempuan adalah untuk berkuasa atas bumi. Pada akhirnya laki-laki dan perempuan akan menjadi orang tua bagi anakanaknya. Orang tua akan bertanggung jawab kepada anakanaknya dan anak-anak tersebut akan bertanggung jawab kepada anak-anaknya kelak. Sukacita yang terbesar adalah ketika manusia merasakan cinta yang pertama dimana ia tidak memikirkan dirinya sendiri lagi. Kita harus dilahirkan kembali karena ada “pernikahan” antara kita dengan Tuhan.

Tuhan melihat kita sebagai anak-Nya. Itulah sebabnya Tuhan begitu menginginkan kita menjadi satu dengan Dia. Terdapat beberapa contoh pasangan yang sudah menikah di dalam jemaat. Apakah mereka bahagia di
dalam pernikahannya? Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan adalah karena bertemu dengan Tuhan.
Ada sebuah ayat tertulis, “Laki-laki akan meninggalkan orang tuanya dan menjadi satu denaan perempuan… Apa yang sudah disatukan oleh Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Matius 19:5-6). Pernikahan merupakan sebuah perjanjian dengan Tuhan karena Tuhan yang mempersatukan.


Kotbah: Darwin Egan Lontoh

Kesatuan

Kesatuan

Berbicara mengenai kesatuan, kita harus menyadari bahwa
Tuhanlah yang mempersatukan kita di dalam jemaat.
Banyak gereja mengalami perpecahan karena tidak memiliki
satu tujuan. Kecenderungan manusia adalah mencari apa
yang cocok bagi dirinya dibandingkan mentaati apa yang
Tuhan perkatakan kepada mereka. Pada kenyataannya kita
harus menjadi satu karena hanya di dalam kesatuan orang
bisa menjadi bertambah kuat dan bertumbuh. Apa yang
mempersatukan kita di dalam jemaat adalah pertobatan
kelahiran kembali. Saat kita bertobat dan dilahirkan kembali
kita mengenal jemaat dan diajarkan tentang komitmen.

Banyak orang yang menginginkan untuk mengikut Tuhan,
tetapi jarang sekali yang mau berkomitmen untuk hidup
menjadi satu. Hal itulah yang membedakan pertobatan
kelahiran kembali dengan orang yang hanya mengatur
dirinya sendiri. Apakah Saudara bahagia disatukan di dalam
jemaat? Jika kita bersatu dengan Kristus kita utuh, sempurna,
dan tidak berkekurangan suatu apapun.

Apa yang sudah dilakukan Yesus di kayu salib adalah
untuk mempersatukan kita dengan Bapa. Yesus saat itu hidup
juga di dalam daging tetapi di dalam Roh ia mentaati
kehendak Bapa. Realitas yang terjadi bahwa Yesus adalah
Kepala dan kita adalah tubuh-Nya. Paulus menyatakan
bahwa ia memperlengkapi penderitaan Kristus dengan
menderita bagi jemaat-Nya. Apa yang dikatakan oleh
Paulus, itu juga yang seharusnya kita kerjakan. Di Efesus 4:1-7,
11 dikatakan bahwa kita menjadi satu supaya kita
berpadanan dengan panggilan yang sudah ditetapkan
Kristus kepada diri kita. Apabila kita tidak menyadari bahwa
panggilan ini begitu berharga maka tidak ada gunanya
Tuhan mengaruniakan rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan
pengajar-pengajar. Hal itu yang mengingatkan bahwa
panggilan kita ini sangat berharga karena kita juga sedang
mengambil bagian di dalamnya. Panggilan yang berharga
ini yang membuat kita mengerti betapa berharganya suatu
kesatuan di dalam jemaat sebagai tubuh Kristus. Mengapa
orang tidak menerima firman yang berharga? Karena bisa
jadi masih ada hal dunia yang lebih berharga dibandingkan
panggilan keselamatan yang kekal ini.

Selanjutnya dalam Kisah Para Rasul 2:36-41 dijelaskan
bahwa semua orang harus menyadari bahwa Bapa yang
menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Kristus. Jika kita tidak
memiliki pengharapan di dalam Tuhan, kita tidak mengerti
apa yang dimaksud dengan kesatuan. Apapun yang kita
miliki sekarang, itulah yang membuat kita bersemangat akan
janji Tuhan. Kesatuan kita dalam jemaat yang membuat kita
terus bertumbuh untuk saling menguatkan satu sama lain.

Saat kita diberikan Roh yang baru itulah yang membuat kita
bersemangat untuk memberitakan Injil kepada orang lain.
Pada ayat di atas, sebanyak 3000 orang menggabungkan diri
dalam jemaat. Hal tersebut memperlihatkan bahwa
bagaimana mereka sungguh-sungguh menjaga kesatuan di
dalam jemaat. Mari kita membayangkan, apakah kita siap
jika banyak orang yang bergabung kepada kita? Kesatuan di
dalam roh adalah hal yang membuat kita kuat. Semua orang
yang menjadi percaya tetap bersatu (Kisah Para Rasul 2:43).

Bagaimana dapat mengatur orang sebanyak itu jika tidak
bersatu? Mereka pasti saling memperhatikan satu sama lain
dan setiap hari mereka memuji Tuhan. Pemimpin yang
mengajarkan kita untuk tidak berjalan sendiri. Dasar dari
kesatuan adalah karena adanya kerasulan di dalam takut
akan Tuhan. Rasul yang terus mengingatkan diri kita untuk
terus hidup dalam satu tujuan. Orang di luar akan melihat
bagaimana kita menjadi satu kesatuan (Kisah Para Rasul 2:44-
47). Yesus mengatakan kita akan menjadi murid-Nya jika kita
saling mengasihi satu sama lain. Hal tersebut yang
menjadikan keberadaan kita sebagai kumpulan yang
berbeda.

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana caranya untuk
bertobat dan dilahirkan kembali (Kisah Para Rasul 4:32-35).
Namun jarang sekali dari mereka yang mau untuk
berkomitmen dan hidup sungguh-sungguh di dalam satu
kesatuan jemaat. Jika kita ingin menikmati perjalanan kita itu
berarti kita melakukan perintah Tuhan. Pengenalan akan
Tuhan dengan benar akan membuat diri kita menerima orang
lain apa adanya. Kita menjadi satu roh karena ada
pemberitaan tentang kebangkitan Yesus. Manusia baru yang
Tuhan berikan akan membuat kita hidup sehati sejiwa karena
Injil kebenaran firman Tuhan. JIka suatu kumpulan tidak lagi
melakukan kehendak Tuhan maka dapat dilihat bahwa tidak
ada kesatuan dalam kumpulan tersebut. Apa yang
membuat kita bersemangat untuk memberitakan Injil? Yaitu
kita penuh dengan pengharapan bahwa orang-orang
menggabungkan diri untuk hidup sungguh-sungguh dalam
panggilan Tuhan. Kesatuan tidak pernah berupa bentuk, itu
terlihat dari tindakan. Persekutuan yang erat ada karena kita
mengetahui tujuan Tuhan yang begitu mulia dalam hidup kita
(Kisah Para Rasul 5:12-14). Janganlah Saudara menjadi biasa
dalam setiap pertemuan selgrup maupun pertemuan ibadah.

Jika kita menganggap biasa maka kita tidak akan
mendapatkan apa yang bisa membentuk hidup kita.
Yesus melihat rancangan Bapa dalam diri-Nya (Yohanes
17:6-13, 20). Ia meminta kepada Bapa supaya murid-muridNya
dan diri-Nya dapat menjadi satu. Bukan Tuhan yang
menahan apa yang kita inginkan tetapi terkadang kita sendiri
yang membatasi keadaan diri kita. Jangan sampai kita
mencampurkan apa yang dikatakan roh dengan perasaan.
Otoritas Tuhanlah yang membuat kita dipimpin untuk menjadi
satu kawanan. Kesatuan yang sesungguhnya adalah kita
melihat orang lain dengan murni, bukan hanya melihat
kepada diri kita sendiri. Dalam 1 Korintus 6:15-17 dikatakan
jika kita mengikatkan diri dengan Tuhan kita akan menjadi
satu roh dengan Dia. Hal ini yang perlu kita perjuangkan
dengan sungguh-sungguh. Berbicara tentang kesatuan
diibaratkan seperti sepasang suami istri (Efesus 5:25-26). Tuhan
mau supaya Ia menyatu dengan jemaat sebagai tubuh-Nya.
Tuhan tidak menginginkan adanya cacat kerut dalam
kesatuan jemaat. Kita harus bangkit supaya jangan sampai
ada dari antara kita yang menjadi lemah.

Kotbah: Dedy Kurniawan

Hidup dalam iman Abraham

Hidup dalam iman Abraham

JIKA Saudara mempunyai iman maka Saudara adalah anak-anak Abraham (Galatia 3:7). Abraham mentaati
apa yang Tuhan katakan dan ia diuji terhadap janji Tuhan. Setiap orang pasti menginginkan untuk memiliki
iman seperti Abraham. Kita percaya karena kita mendengar dan apa yang kita dengar akan terus diuji
itulah pekerjaan iman. Saat Abraham berumur 75tahun, ia dipanggil oleh Tuhan dan Tuhan memberkati
Abraham supaya ia menjadi berkat bagi bangsabangsa. 25 tahun kemudian barulah Abraham
mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan yaitu anak. Tuhan sudah mengatakan bahwa melalui keturunannya
semua bangsa akan diberkati. Janji yang Tuhan berikan kepada Abraham begitu besar oleh karena itu ujiannya juga semakin besar. Sama halnya dengan kita, janji Tuhan dalam hidup kita begitu besar sehingga kita harus siap dengan pengujian yang besar.

Selanjutnya dalam Roma 4:20-21 dikatakan Abraham dikuatkan dengan imannya. Ia memastikan
Iblis tidak merampas apa yang sudah ia percayai dalam janji Tuhan. Meskipun dalam menunggu
memerlukan waktu yang lama, tetapi ia terus memperkuat imannya terhadap janji Tuhan. Ishak
merupakan anak perjanjian yang dinantikan oleh Abraham (Galatia 4:28-29). Sedangkan kita bisa
menjadi anak-anak Abraham karena iman kita. Saudara harus bertobat dan dilahirkan kembali supaya
Saudara hidup dalam iman. Di Galatia 3:1 tertulis “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah
mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di
depanmu?” Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa orang Galatia begitu bodoh karena mudah sekali
terpesona dengan hal lain yang ditawarkan selain Yesus Kristus. Paulus mengatakan Roh yang sudah diberikan kepada mereka seharusnya tidak membuat mereka berpaling dan percaya pada kata-kata yang
mengenakkan daging mereka. Paulus begitu geram terhadap apa yang sudah terjadi pada orang-orang
Galatia, apa yang sudah dimulai dengan Roh dapat dengan mudah diakhiri dengan daging (Galatia 3:2-3).
Hidup kudus tidak menjamin kita untuk tidak mengalami kematian, tapi percaya kepada kuasa salib
Kristus yang akan membuat kita menjadi orang yang bertindak dan bangkit dari kematian. Apapun dapat
mempesona kita jika kepercayaan kita kepada Tuhan tidak penuh lagi. Banyak gereja yang sudah ditipu
dengan pengajaran yang hanya menyenangkan telinga. Kita mentaati Roh Kudus bukan karena
percaya kepada Hukum Taurat, tetapi karena beriman kepada pemberitaan Injil (Galatia 3:5). Kita menjadi
benar karena kita meletakkan iman kita sepenuhnya kepada Kristus. Roh yang Tuhan berikan kepada kita
membuat kita dapat melakukan mujizat yang Yesus lakukan sehingga orang dapat melihat bagaimana
Tuhan bekerja. Kita harus terus percaya kepada janji Tuhan meski kita harus menunggu, tetapi kita harus terus maju untuk percaya.

Dalam Kejadian 18:18-19 dijelaskan bahwa Tuhan memilih Abraham bukan karena ia akan mengajarkan
kepada anak-anaknya. Melainkan Tuhan mengajarkan supaya Abraham dapat melatih anak-anaknya artinya
hal ini bukan lagi dengan kekuatannya sendiri. Ketika Tuhan mengatakan hal ini, ia belum mempunyai anak.
Tuhan secara ajaib membuat Abraham dapat mempunyai anak. Dalam Kejadian 15 diceritakan
bahwa Abraham harus menunggu selama 400 tahun sampai janji itu terjadi (keturunannya akan seperti
bintang di langit dan pasir di laut). Ketika menunggu dalam waktu yang sangat lama, pada saat itulah
Abraham harus mengajarkan kepada anaknya apa yang sedang ia percayai. Pengajaran akan dilakukan
secara terus menerus oleh keturunan orang percaya. Setiap orang menginginkan iman seperti Abraham,
tetapi tidak banyak orang yang mau menunggu dengan iman seperti yang Abraham lakukan. Iman
memang bukanlah hal yang mudah karena iman akan diuji. Kita dapat melakukan hal yang gila karena kita
menantikan janji Tuhan. Oleh karena itu kita tidak dapat melakukannya dengan kekuatan kita.
Diperlukan hal yang supranatural supaya kita dapat menantikan janji itu sampai itu terjadi. Sara saja tertawa
ketika mendengar ia akan melahirkan seorang anak (Kejadian 18:9-14). Namun Tuhan tetap mengatakan
kepada Abraham bahwa istrinya, Sara, akan melahirkan anak yang menjadi berkat bagi bangsa-bangsa
(Kejadian 17:15). Seharusnya Sara bersyukur bahwa ia akan melahirkan anak, tetapi justru ia tertawa.
Abraham beriman mengenai hal tersebut maka ia juga mengajarkan kepada Sara supaya ia beriman terhadap
janji Tuhan.

Kotbah: Ian McKellar-Singapore

BENIH YANG JATUH DI EMPAT JENIS TANAH

BENIH YANG JATUH DI EMPAT JENIS TANAH

Beberapa minggu yang lalu Pak Darwin pergi ke Kalimantan, ia sangat diberkati waktu perjalanan misi ke Kalimantan. Yang ia temukan waktu pergi ke kota-kota yaitu tidak ada bedanya jemaat di Kalimantan dengan jemaat kota manapun karena ia selalu menikmati setiap perjalanannya. Di Kalimantan, dengan
segala fasilitas yang terbatas, mereka memuji dan menyembah Tuhan dengan semangat bahkan keadaan panas sekalipun mereka tetap menari dengan terlepas. Dari antara mereka ada juga beberapa orang yang memberi diri untuk dibaptis. Mereka tidak melihat keadaan mereka, tetapi mereka terus memberitakan Injil dengan terlepas.

“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondongbondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri dipantai.” (Matius 13:1-2). Ada sesuatu yang membuat banyak orang mengerumuni Yesus. Mereka mengerumuni Yesus adalah orang yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh. “Dan Ia
mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan
menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!” (Matius 13:3-9).

Bagi penabur, benih yang jatuh di pinggir jalan bukanlah benih yang jatuh dengan sengaja. Seorang penabur tidak mungkin menabur benihnya di pinggir jalan. Benih itu adalah Injil. Injil bisa lewat begitu saja dalam hidup kita, kemudian datang burung yang memakan benih itu, burung itu adalah Iblis atau si jahat. Iblis tidak
menyisakan benih itu. Tidak ada seorangpun penabur yang menginginkan benihnya jatuh ke tanah yang berbatu-batu. Kemudian ada benih yang jatuh ke semak duri, tidak ada yang bisa membuat ia bertumbuh karena ia terhimpit semak belukar. Lalu yang terakhir adalah yang diinginkan oleh penabur, yaitu jatuh ke tanah yang subur sehingga ia berbuah berkali-kali lipat. Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar. Ini berbicara tentang hidup. Hal yang luar biasa yaitu waktu benih jatuh ke tanah yang subur dan berbuah seratus kali lipat. “Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepadaNya: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.” (Matius 13:10-11). Rahasia Kerajaan Sorga tidak dibukakan untuk sembarang orang. Kerajaan Sorga dibukakan waktu orang itu menerima Roh Kudus. Pada waktu kita menerima karunia Roh Kudus kita diberikan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga. Di Kisah Para Rasul, Yesus mengajarkan murid-murid selama empat puluh hari tentang Kerajaan Sorga. Mereka bisa mengetahui rahasia Kerajaan Sorga tetapi mereka juga harus diajarkan tentang hal itu. Kita akan menjadi aliran-aliran air hidup waktu Yesus dimuliakan. Namun Yesus harus mati terlebih dahulu, bangkit dan naik ke Sorga barulah kita menerima Roh Kudus sehingga kita mengerti rahasia Kerajaan Sorga itu. Orang yang sudah dilahirkan kembali pasti ingin menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain. Ia akan terus bersaksi karena rahasia Kerajaan Sorga itu tidak hilang. Selalu dimulai dari kesaksian kita, barulah kita bisa mengajar. Di Kisah Para Rasul 1:1 tertulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan oleh Yesus. Banyak orang yang bisa mengajarkan, tetapi tidak menghidupi dan melakukannya.

Pengajaran menjadi sesuatu yang membosankan bila tidak ada hidup di dalamnya. “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan di ambil dari padanya.” (Matius 13:12). Berbicara tentang pengejaran, orang yang mengejar akan terus mendapat pengertian dari Tuhan. Jika kita berhenti mengejar seharusnya kita bertobat. Tuhan tidak ada tawar-menawar untuk kita menjadi loyo dan frustasi. Di dalam hidup ini ada batu-batuan, semak belukar, dan burung (Iblis) yang kapan saja bisa merintangi kita semua. “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” (Matius 13:13) ”Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Matius 13:16-17). Pada zaman Perjanjian Lama, orang-orang tidak mendapatkan apa yang sudah kita dapatkan yaitu pengertian tentang firman Tuhan. Selain itu, tidak sembarangan orang bisa mendapatkannya. Hal yang paling penting di sini adalah mendengar. Tuhan inginkan kita mendengar dengan sungguh-sungguh. Kita bisa membuat seakan-akan ini penting tetapi yang sebenarnya kita membuatnya tidak penting. Kita bisa membohongi manusia,
tetapi kita tidak bisa membohongi Tuhan. Dalam Matius 13: 18, Yesus menjelaskan arti dari perumpamaan itu. Pertama, benih yang ditabur di pinggir jalan adalah orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu. Kedua, benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan
atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun murtad (Matius 13:20-21).

Ketiga, yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini
dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah (Matius 13:22). Firman itu bisa terhimpit dan menjadi mati. Yang terakhir adalah benih yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, karena itu ia menjadi berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (Matius13:23). Waktu kita bertobat lahir kembali kita akan bersaksi, kita harus mengerti dimana benih itu jatuh. Kita diurapi bukan karena kepintaran kita tetapi karena
Tuhan sendiri yang membuat kita mengerti. Orang yang lemah tidak akan pernah bisa bersaksi. Orang diurapi bisa menjadi lemah, karena firman sudah menjadi lemah. Waktu firman itu kuat, kita menjadi orang yang berotoritas. Otoritas tertinggi bahwa kita adalah anak-anak Tuhan. Jangan sampai firman itu tertindas. Kita bukan hanya menjaga “harta”, tetapi kita juga memberikan harta yang berharga itu kepada orang lain. Waktu kita dilahirkan kembali, kita tidak dilahirkan dengan benih yang fana. Benih itu adalah firman Tuhan dan firman itu adalah Tuhan sendiri. Orang yang mengerti firman Tuhan dikatakan sebagai tanah yang subur. Waktu orang bertobat dilahirkan kembali, firman itu jatuh ke tanah yang subur. Mari kita terus menjadi
benih yang jatuh di tanah yang subur supaya firman Tuhan menjadi firman yang hidup dalam setiap kehidupan kita dan kita bisa menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan kepada orang
lain.

Kotbah:
Darwin Egan Lontoh

Monday, 9 November 2015

Share Habel Kendari

Kita harus memliki mental seperti seorang prajurit yang mengerti mengenai kekekalan.     Hati-hati dengan perkataan Saudara karena suatu saat nanti perkataan Saudara akan terwujud.   Di Kendari, ada seorang bapak yang memberi diri untuk bertobat dan dilahirkan kembali. Pemberitaan   Injil   yang   disampaikan   tidaklah  sebentar tetapi sudah 10  tahun yang lalu bapak  tersebut mendengar pemberitaan Injil.   Mari kita terus perkatakan kata-kata nubuatan ataupun kata-kata iman, karena apa yang kita perkatakan pasti akan berbuah pada waktunya Tuhan.   Banyak orang yang menantikan pemberitaan Injil kita.  Keluarlah dari kotak aman kita dan terus nyatakan itu kepada banyak orang.   Terus beriman dan pegang janji Tuhan.

Share: Habel Patulak-Kendari

Share Amah Kupang

Saat kita mengerti tentang siapa yang sudah memegang otoritas, kita tidak akan takut dengan apa yang akan kita hadapi untuk ke depannya. Perjalanan di Kupang membuat saya mengerti bahwa saya bangga memiliki Bapa yang begitu luar biasa.  Kebanggaan ini bukan lagi berasal dari manusia, tetapi bangga terhadap apa yang sudah Tuhan kerjakan untuk kami. Sebelum berangkat ke Semarang ada 2 orang yang memberi diri untuk diselamatkan  dan  berkomitmen  di  dalam  jemaat. Beberapa waktu ini banyak mahasiswa yang bertobat dan lahir baru, tanpa disuruh mereka secara otomatis memberitakan Injil kepada teman-teman kampusnya. Semakin banyaknya orang yang ditambahkan membuat saya terpikir mengenai tempat pertemuan, hingga suatu ketika saya dipertemukan dengan opa dari teman yang memiliki sebuah ruang gedung pertemuan.  Sekali lagi, di sini saya benar-benar mengerti penyediaan Tuhan bagi kami.    Kami diberikan  pinjaman  gedung  tersebut  tanpa dipungut biaya. Saya  teringat mengenai kisah  Daniel  di dalam Alkitab, orang-orang di sekitarnya berusaha untuk mengajarkan nilai-nilai yang berbeda dengan nilai yang dimilikinya.  Namun Daniel tidak memasukkan nilai tersebut karena ia sudah mengenal kekekalan.   Begitu juga saat kita  berada  di  kampus  atau  di  manapun  kita  berada, dunia  akan  terus  menawarkan  nilai-nilainya  tetapi  kita harus  tetap memegang nilai-nilai kekekalan yang sudah kita miliki yaitu kerajaan yang kekal.   Kita pergi bukan karena manusia tetapi karena kita memiliki nilai Kristus dalam diri kita, itulah yang membedakan kita dengan orang yang belum mengenal Tuhan.  C’mon brother sister, mari kita sungguh-sungguh mengejar Tuhan!


Share: Amah-Kupang

Bangkit dan bersinar

Bangkit dan bersinar
PADA awal pertobatan, saya benar-benar diajarkan oleh Pastor Darwin mengenai pengenalan akan Tuhan dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan saya.   Kemudian ada banyak orang yang membangun di atasnya, namun hal yang terpenting adalah  dasar  yang  sudah  saya  miliki.    Sempat  terpikir dalam benak saya bahwa saya tidak akan bertemu dengan Pastor Darwin kembali, namun Tuhan yang mempertemukan  kami  dengan  perjalanan  yang  begitu luar biasa yang sudah kami lewati masing-masing.

Dalam Yesaya 60:1-4, terang itu sudah terjadi dalam diri kita. Terang yang Saudara miliki adalah terang yang diingini oleh bangsa-bangsa lain.  Ketika Saudara memiliki terang, orang akan melihat bagaimana keberadaan diri Saudara. Karena itu, jadilah percaya diri di manapun Saudara   berada   karena   Saudara   memiliki   daya   tarik Orang yang berbeda akan menarik orang lain.   Hidup Saudara akan memancarkan kerajaan Tuhan dan itulah yang   menarik   orang   lain   untuk   mendekat   kepada Saudara.

Selanjutnya dalam Yohanes 1:5 dikatakan bahwa “Terang  itu  bercahaya  di  dalam  kegelapan  dan kegelapan itu tidak menguasainya”. Orang yang hidup dalam Kerajaan Tuhan maka kegelapan tidak akan menguasainya.  Kemudian di Yohanes 1:11, Tuhan datang kepada milik kepunyaannya supaya mereka dapat merefleksikan kuasa yang Tuhan miliki.  Jika Saudara tahu mengapa   Tuhan   memilih   Saudara,   itu   berarti   Tuhan percaya bahwa Saudara sanggup membawa Kerajaan Tuhan turun ke bumi. Saat kita bertemu dengan orang lain, bawalah Kerajaan Tuhan. Orang yang menjadi milik kepunyaan Tuhan akan memiliki kuasa di dalam Tuhan.

“Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu” (Yesaya 60:5). Muka yang berseri-seri berasal dari pemikiran yang positif.  Kita harus merubah cara pikir kita dari cara pikir yang negatif, sombong, dan merasa tua.   Pemikiran yang lahir dari Kerajaan Tuhan adalah pikiran Kristus.   Pikiran Kerajaan Tuhan tidak membawa kepada ketakutan dan keraguan.

Hal yang luar biasa ketika Saudara menikmati perjalanan  yang  Saudara lewati  bersama-sama  dengan Tuhan.  Perjalanan yang tidak mudah dan perlu takut akan Tuhan. Hanya  orang-orang  yang  dikuasai  oleh  Kerajaan Tuhanlah yang dapat melewati hal-hal mustahil. Angkat kepala Saudara, lihat dengan iman di sekeliling Saudara. Orang yang hidup dalam Kerajaan Tuhan akan terus menyatakan kebenaran yang dihidupi.   Kebenaran yang dibagikan bukan sekedar pengetahuan, tetapi kehidupan yang   nyata   dalam   Tuhan.   Jangan   mengikatkan   diri Saudara dengan dunia ini, karena hal tersebut dapat menjadikan diri Saudara musuh Tuhan.  Saudara harus terus membangkitkan rasa lapar dan haus akan Tuhan.  Orang Kristen bukan hanya sekedar melompat dan menari di dalam gedung, tetapi menjadi pembebas saat kita di luar sana.


Khotbah: Edmond Sarida-Lampung

Dengarkan

Dengarkan
DALAM Yeremia 1: 5 dikatakan bahwa "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, 
dan  sebelum  engkau  keluar  dari  kandungan,  Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."      
Saat di dalam kandungan pun, Tuhan sudah menetapkan Yeremia menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. 
Seseorang dapat mendengar jika ia tidak tuli, namun ada beberapa orang yang mengalami tuli rohani.   
Tuli rohani merupakan sebuah kondisi dimana seseorang dapat mendengar firman Tuhan namun mereka tidak melakukannya,
seperti ada yang tertulis dalam kitab Roma dan Yeremia.  Kata “dengarkan” sangat penting sekali, terutama dalam posisi seperti atasan kepada bawahannya.

Ketika kita mengikut Tuhan, kita seringkali mendengar apa yang Tuhan perintahkan. Namun tidak cukup hanya sampai di situ saja.  
Kedudukan yang paling tinggi yaitu ketika kita melakukan perintah Tuhan, seperti seorang pelayan kepada tuannya. 
Pelayan itu akan mengikuti apa pun yang tuannya katakan.   Kekuatan yang kita terima adalah pada saat kita mendengarkan   apa   yang   Tuhan   katakan.      
Saat   kita membaca Alkitab dan menghidupinya, seharusnya kita semakin bersemangat.
Selanjutnya di Yeremia 1:6-7, kata yang terpenting adalah mendengarkan apa yang Tuhan katakan.  
Jika kita tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan maka hal tersebut tidak menyenangkan Tuhan.  
Pada zaman sekarang banyak orang  yang  melakukan  pembelaan  yaitu  apabila  ia melakukan kesalahan maka ia berpikir bahwa ia akan diampuni.   
Hal tersebut merupakan kasih karunia yang murahan.   Tidak semua orang dapat memiliki kesempatan untuk diampuni.  
Yudas Iskariot dan Esau benar-benar tidak memperoleh pengampunan karena mereka melanggar perintah Tuhan. 
Kata “harus” dalam Yeremia 1:7 bukanlah hal yang bisa dilanggar begitu saja, hal tersebut merupakan sebuah kewajiban bagi kita untuk melakukannya.
Diketemukan pada zaman sekarang, banyak orang berbicara tentang karakter tetapi jarang sekali mereka berbicara mengenai kelahiran kembali.  
Kelahiran kembali yang kita beritakan bukanlah kelahiran kembali versi diri kita sendiri  tetapi  dari  apa  yang  Tuhan  katakan.     
Kelahiran kembali terlihat dari fakta hidup melalui perbuatan yang dilakukan  oleh  seseorang.   
Karakter  tidak  menjamin  orang untuk  terhindar  dari  dosa.Banyak  orang  yang  memiliki karakter bagus namun ia adalah pencuri atau penyesat.
Seseorang dapat mengerti apa yang ia “dengarkan” jika orang tersebut menyukai apa yang ia dengar.  Manusia suka mendengarkan   apa   yang   ia   suka.      Bisa   jadi   dari   luar sepertinya ia menyetujui namun perbuatannya menunjukkan bahwa ia tidak mengerti apa yang ia dengar.   Di dalam Alkitab,   kata   “mendengar”   pertama   kali   ditulis   dalam Kejadian 3:17.   Adam dapat jatuh ke dalam dosa karena ia mendengarkan perkataan Hawa.   Sama halnya jika kita mendegarkan hal yang salah maka apa yang kita perbuat akan salah.   Saat kita bertobat lahir baru, firman yang kita dengar itulah yang membuat kita tidak melakukan dosa lagi.

Dalam Roma 10:13-15, kita dapat mendengar karena ada orang yang memberitakan dan ada orang yang memberitakan karena ada orang yang diutus.
Orang dapat mengatakan  ia sudah mendengar  tetapi  belum  tentu  apa yang ia dengar adalah hal yang benar.
Selanjutnya dalam Yeremia 1:8-10, Tuhan yang menaruh perkataan-Nya di dalam mulut kita.  Mungkin Saudara terlihat seperti  tidak  ada apa-apanya, namun Saudara harus tahu bahwa Saudara sudah dipilih untuk menyatakan kebenaran Tuhan.
Jangan menganggap rendah apa yang sudah Tuhan percayakan  dalam  diri  Saudara.  Dikatakan  bahwa  Tuhan yang mengangkat kita untuk mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan dengan tujuan untuk membangun dan menanam.
Ketika kita mendengarkan kotbah,  banyak  ketidakbenaran  dari diri  kita  yang  dicabut dan dirobohkan  serta  dibinasakan  dan diruntuhkan  supaya kita dibangun dan ditanam.
Semua itu bergantung dari kedewasaan masing-masing diri kita dan hal tersebut dapat dinamakan sebagai pembaharuan cara pikir. Seorang yang sudah bertobat lahir baru tidak sulit untuk memberitakan hal tersebut. 
Orang  yang memberitakan  injil  akan memperkatakan untuk mencabut pemikiran yang menentang pengenalan akan Kristus. Pada Yeremia 1:11-12, Tuhan memberikan kepercayaan kepada kita ketika kita sudah siap sedia.
Orang yang sudah siap sedia akan membuat sebuah perubahan-perubahan dalam hidupnya.
Kemudian dalam Yeremia 11:1-8, 18, 20 dikatakan bahwa orang yang tidak mendengarkan lagi berarti ia sudah tidak sungguh-sungguh lagi.  Hal itu juga berarti ia sudah tidak jatuh cinta lagi.
Jika kita tidak mendengarkan perkataan-perkataan perjanjian yang dari Tuhan maka terkutuklah kita.  Selanjutnya dalam Yeremia 12:1-2, banyak orang belajar mengenai motivasi namun hatinya menjauh daripada Tuhan,
kemudian ayat 16-17 tertulis “Dan jika mereka sungguh-sungguh belajar cara  hidup  umat-Ku  sehingga  bersumpah  demi  nama-Ku: demi  TUHAN  yang hidup, seperti  tadinya  mereka  mengajar umat-Ku untuk bersumpah demi Baal, maka mereka akan dibangun di tengah-tengah umat-Ku. Tetapi jika mereka tidak mau mendengarkan, maka Aku akan sungguh-sungguh mencabut dan membinasakan bangsa yang demikian, demikianlah firman Tuhan.”   Betapa seriusnya Tuhan dengan bangsa  Israel  supaya  mereka  benar-benar  mendengarkan apa yang Tuhan katakan.   Kembali lagi tertulis  jika mereka tidak mau mendengarkan, maka Tuhan akan mencabut dan membinasakan bangsa Israel.

Dalam Matius 17:1-5, Bapa memberikan perintah bahwa kita harus mendengarkan Yesus.   
Yesus datang untuk menggenapi  apa yang sudah Tuhan janjikan  sejak semula. Pastikan bahwa pada saat ini Saudara benar-benar sedang sungguh-sungtbguh di dalam panggilan Tuhan dan hal itu harus terus dipastikan dari hari ke hari.  
Orang yang sungguh- sungguh jatuh cinta pasti ia akan menyediakan waktu bagi orang yang dicintainya, seperti itulah cinta kita kepada Tuhan dalam panggilan kita.  
Dengarkanlah Tuhan dan lakukan perkataan Tuhan dengan benar maka hidup Saudara akan terus diubahkan. 


Khotbah: Darwin Egan Lontoh
Jubilee Indonesia

Tuesday, 1 September 2015

Menjadi Saksi Kristus

Menjadi Saksi Kristus

Bagaimana dengan minggu ini apakah kita sudah menjadi saksi Kristus?  Apakah Saudara sudah menjadi penjala manusia?  Kita adalah terang dan garam dunia. Terang dan garam bukan di dalam gereja ini saja, tetapi di luar gereja.  Sekarang Tuhan mau berbicara lebih kepada kita yaitu bicara tentang saksi dan menjala manusia.  Waktu kita aman dengan apa yang Tuhan karuniakan kepada kita, kita akan bersaksi dengan kelepasan. Kita harus aman dengan diri kita sendiri. Selama kita masih menjadi orang lain dan belum selesai dari segala dosa kita, kita tidak akan menjadi pribadi yang bersaksi.  Sebuah kepercayaan karena Saudara beragama kristen tidak akan menjadikan Saudara pribadi yang berkuasa.   Kita harus menyadari ketika Roh Kudus ada di dalam hidup kita, kita menjadi pribadi yang berkuasa. Beberapa hari yang lalu, Dedy dan salah satu jemaat bertemu dengan teman-temannya dan waktu dirinya berbicara tentang Tuhan dan kehidupan, mereka tidak memilikinya bahkan dari mereka ada yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. ”Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu; Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya”  (1 Yohanes 5: 10-11).  Waktu seorang percaya kepada Yesus, kepercayaan itu mengubahkan kehidupannya bahkan menjadi kesaksian yang hidup.  Kesaksian adalah suatu yang penuh kuasa.   Banyak orang yang percaya dengan Yesus hanya sekedar percaya.    Percaya bukan karena kita bergereja.   Realitanya, orang lain tidak langsung bisa menerima Injil, tetapi dirinya bisa.  Dirinya melihat betapa luar biasa pekerjaan Tuhan, ada kesaksian yang hidup dan bekerja. Beberapa minggu ini saya banyak bertemu dengan orang yang berpelayanan.   Orang Farisi dan orang saduki mereka tidak berdosa, tetapi mereka tidak berkenan di hadapan Tuhan.  Mereka tidak berkenan karena tidak ada Tuhan di dalam hidup mereka.  Orang yang tidak berdosa justru yang melawan Yesus.  Jangan sampai kita hanya senang dengan rutinitas ibadah tetapi tidak ada hidup di dalamnya.

Waktu kita memberitakan Injil, pastikan bahwa kita hidup dalam pemberitaan Injil. Hidup itu hanya di dalam Kristus.  Jangan berpuas diri hanya karena kita sudah memberitakan Injil dan tidak pernah melewatkan sedikitpun pertemuan di dalam Jemaat bahkan tidak pernah melewatkan sedikitpun suatu pertemuan keluarga, harusnya kita lebih hidup lagi.   Tadi malam, Dedy dan beberapa jemaat diundang dalam suatu persekutuan dan mereka menghadirinya. Roh di dalam diri kita tidak bisa ditipu.  Waktu kita berjalan dan hidup bersama-sama dengan dia baru kita tahu bagaimana hidupnya.  Mereka bisa melihat bahwa kita berbeda, mereka mengakui bahwa ada sesuatu yang sudah kita miliki tetapi mereka tidak miliki. Mereka hanya melihat kepada suatu program.  Kita tidak bisa menjadikan orang lain sama seperti kita.  Jika mereka tidak mendapatkan hidup itu, mereka tidak akan memiliki apa yang sudah kita miliki.  kita harus aman dan jangan terburu-terburu.   Kita tidak membawa orang-orang kepada kehidupan agama yang lebih baik tetapi kehidupan pertobatan yang daripada Tuhan.  
Mustahil orang bisa bertobat, bila ia tidak mendapatkan pengertian dari Tuhan. Mereka harus menyerah dahulu dengan apa yang mereka pikir, barulah mereka mendapatkan apa yang kita miliki. Setiap orang harus datang kepada Tuhan dan merendahkan diri karena pengampunan itu hanya datang dari Tuhan dan hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan dosa manusia. “kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.   Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6),   realitasnya ada jalan Dedy, kebenaran Dedy dan hidup Dedy.  Realitasnya diri kita harus menghidupi jalan, kebenaran dan hidup Tuhan, bukan lagi jalan, kebenaran dan hidup pribadi lagi.  
Sekarang orang lebih senang dengan gereja yang mengajarkan tentang berkat dan kasih tetapi tanpa Tuhan di dalamnya akan menjadi suatu yang mati. “Sebab Upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23). Dosa itu yang mengkorupsi hati kita.   Jika kita berpikir dosa itu kesalahan, tidak, bukan hanya itu.  jika Saudara pikir itu kejahatan, dosa lebih dari itu.   Kebanyakan orang Kristen adalah orang yang baik tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka berdosa.  Berkali-kali Dedy bertemu orang dan ia harus menjelaskan dosa itu.   Dosa bicara tentang kebenaran diri sendiri yang hidup di dalam diri kita. Dalam Matius 3:7, waktu orang Farisi datang untuk dibaptis, mereka dikatakan keturunan ular beludak, kemudian di Lukas 7: 28-35, bicara tentang maksud Tuhan dalam hidup kita.  Orang Farisi sudah ditentukan binasa.  Jangan anggap biasa pertobatan itu. Jangan sampai kita seperti Esau,  spirit Esau yang menganggap pertobatan suatu yang biasa. Ada orang yang memilih jalan dan tidak bisa kembali.  Waktu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka menghidupi jalan, kebenaran dan hidup mereka sendiri.

Kecenderungan manusia adalah jalan sendiri,  bagaimana kita mau bersaksi jika kita masih memikirkan diri sendiri.   Paulus menjaga dirinya dengan memberitakan Injil, ia menjaga kasih karunia Tuhan dengan sedemikian rupa. Di dunia ini kita memiliki tujuan. Jika kita tidak punya tujuan, alasan untuk kita hidup panjang pasti tidak ada. Dalam Yesaya 53:6, Mari kita mengenali diri kita sendiri,  orang bertobat senang bertemu dengan orang yang memiliki suatu yang sama.  Tuhan mengenal orang yang melakukan dan taat kepada-Nya.  Yesus mencari murid-murid yang sungguh-sungguh mengikuti Dia. Hidup dalam pertobatan membuat kita bahagia. Kita memilih untuk hidup bahagia.   Menjadi pembenaran jika kita menerimanya, kita harus memilih untuk dibentuk oleh-Nya dan waktu kita bersaksi, bukan karena tugas lagi tetapi menjadi kesenangan kita.  Realitas hidup kita penuh dengan masalah,  kita bahagia karena tidak memikirkan masalah menjadi yang utama.  

Lukas 5:4-8, Tuhan mau berbicara lebih kepada kita. Jika ada satu orang datang dalam hidupmu, berdoalah untuk kita tidak sibuk dan berdoalah supaya kita tidak melewatkan kesempatan itu.  Kita tidak akan berbuah jika kita tidak mendengarkan Tuhan.   Kita harus sensitif mendengar suara Tuhan,  Dalam Lukas 5:9-11 mulai sekarang kita menjadi penjala manusia,   Mari kita bersaksi dan mari kita bertumbuh supaya kita menjadi orang-orang yang siap waktu Tuhan mempertemukan dengan orang.

Berkat

Berkat

Saat kita bertobat lahir baru kita mengalami hal-hal yang tidak terkatakan dan sukacita penuh.  Benih kehidupan yang kekal kita terima waktu dilahirkan kembali ini yang kita bagikan kepada orang-orang yang belum mendengar kebenaran firman Tuhan.  Setiap orang mempunyai daging dan keangkuhan, namun saat firman Tuhan dibagikan biarkan firman Tuhan bekerja kepada orang itu sampai ia pun memperoleh sukacita yang kita rasakan.

Orang yang sudah menemukan Tuhan sudah memperoleh berkat yang jauh luar biasa jika dibandingkan dengan apa yang orang-orang dunia kejar saat ini. Banyak motivator yang mengajarkan bagaimana hidup sukses pasti akan selalu mengajak kita untuk hidup cerdas secara keuangan dengan tujuan kehidupan yang lebih baik dan maksimal dalam menghasilkan sesuatu bagi kehidupannya.  Siapa yang tidak tergiur dengan apa yang dunia tawarkan? Jika kita lihat banyak orang berusaha sedemikian keras untuk memperoleh harta benda namun sampai kapan mereka akan terus mengejar kemapanan secara materi?  Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang mereka miliki.  Sampai di mana seseorang akan mengejar kesuksesan dunia? Tanpa Tuhan seseorang tidak akan pernah puas dengan segala keinginannya. Tetapi waktu kita sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan kepuasan secara rohani dan jasmani itu yang kita peroleh.  Dalam Mazmur 24:3-6, orang yang bersih tangannya dan murni hatinya akan memperoleh berkat dari Tuhan. Orang yang bersih dan murni adalah saat di mana tidak lagi berbuat dosa dan tidak ada yang cemar dan najis dalam dirinya.  Bait Tuhan adalah bait yang kudus, karena sudah tidak ada lagi kenajisan di dalamnya, bait Tuhan itulah diri kita setelah kita dilahirkan kembali. Kita memerlukan keintiman dengan Tuhan setiap hari dan mengalami pembaharuan akal budi.

Selanjutnya dalam 1 Petrus 2:9 kita sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani , bangsa yang kudus dan umat kepunyaan Tuhan sendiri tidak akan memberitakan perbuatan Tuhan yang besar dan ajaib jika kita tidak keluar dari kegelapan.  Hal tersebut juga dinyatakan dalam Keluaran 19:5-6, janji itu bukan hanya diberikan kepada bangsa Israel namun karena bangsa Israel sudah bebal maka janji itu sampai kepada bangsa-bangsa lain termasuk kepada kita. Kita harus tahu bahwa diri kita adalah bangsa yang kudus, maka pergi ke gereja bukan hanya sebagai keharusan sebagai orang Kristen namun juga karena kita mengalami kehidupan yang nyata dengan Tuhan setiap harinya.  Kita tahu siapa Tuhan yang kita sembah, hidup yang tidak sekedar bangga menjadi seorang beragama Kristen.
Janji Tuhan bagi anak-anak-Nya adalah bahwa berkat Tuhan sudah turun bagi kita.  Kita sebagai anak Tuhan sudah hidup dalam kebenaran sehingga tidak ada kepalsuan dan tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Dalam Yeremia 33:3 dikatakan bahwa “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui”  hal yang tidak terpahami akan Tuhan bukakan kepada kita.  Tidak ada lagi yang tidak akan kita mengerti saat pengertian kita sudah dibukakan dalam Tuhan.  Kita harus tahu siapa diri kita di dalam Tuhan dan identitas kita dalam Tuhan, kita berhak menerima janji-janji Tuhan.  Abraham sebagai orang yang menerima janji Tuhan dia tahu siapa dirinya di dalam Tuhan ia tidak meminta kekayaan secara materi tetapi ia menerima kekayaan yang berlimpah karena ia taat kepada perintah Tuhan.

Jika kita membaca Kejadian 12:1-4, Abraham segera pergi seperti yang sudah difirmankan Tuhan kepadanya. Ia taat dengan apa yang Tuhan perintahkan. Jadi yang perlu kita lakukan adalah taat saja.  Janji yang Abraham peroleh terjadi beberapa tahun kemudian setelah janji itu diberikan oleh Tuhan, namun ia tetap saja taat dan beriman kepada Tuhan.

Jika saudara belum mengalami hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan (kelimpahan yang dimaksud bukan secara materi yaitu hidup yang aman dan iman yang sepenuhnya di dalam Tuhan) saudara perlu untuk terus berseru kepada Tuhan.  Sejak kita dilahirkan kembali kita tahu hidup kita berbeda dengan hidup kita sebelumnya.  Iman kita perlu kita jaga setiap hari karena iman bisa gugur dan kandas.  Proses hidup di dalam Tuhan memerlukan iman yang penuh setiap hari.  Tuhan akan membukakan hal-hal yang tersembunyi jika kita benar-benar berseru kepada Tuhan.  Rahasia Tuhan akan dinyatakan kepada kita . Berkat Tuhan sudah tersedia bagi kita setiap hari maka kita harus terus menjaga diri dengan hati yang murni dan bersih.

Sudah ratusan orang yang keluar jemaat, yang dahulu bersemangat menginjil namun sekarang keluar dari apa yang Tuhan nyatakan dalam diri mereka saat mereka mengenal Tuhan.  Kita perlu saling menguatkan dan saling mengingatkan supaya jangan sampai dari antara kita ada yang berdosa.  Berkat yang kita miliki bukan untuk diri kita sendiri, di dalam jemaat sudah tidak ada lagi yang merasa memiliki lebih dibandingkan dengan yang lain atau bisa hidup mewah sendiri, tapi hidup berjemaat yang seperti keluarga sendiri, saling membantu satu sama lain dan harusnya tidak ada yang kekurangan.  Anak Tuhan  tidak hidup dalam ketakutan dan kekuatiran.
Kemudian dalam Hagai 1: 5-11, bangsa Israel berusaha untuk memberikan korban persembahan kepada Tuhan.  Mereka mengharapkan banyak namun apa yang mereka peroleh sedikit. Mereka melihat kepada rasa nyaman mereka sendiri. Mereka tidak melihat lagi untuk membangun bait Tuhan tetapi mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri.  Perhatikan diri saudara, jangan sampai bait Tuhan yang ada dalam diri saudara hancur dan saudara menjadi sibuk dengan urusan diri sendiri.

Berbicara mengenai berkat, Tuhan sebenarnya sudah menyediakan berkat dengan begitu melimpahnya namun jika kita mengalami kesulitan dalam keuangan dan pekerjaan, perhatikan lagi hidup saudara apakah yang menjadi fokus utama dalam hidup saudara sudah benar?  Apakah kita memberikan prioritas utama kepada bait Tuhan yang ada di dalam diri kita?  Tuhan yang memiliki daulat dalam hidup kita.  Saat kita menjadikan Tuhan yang utama dalam diri kita maka kasih karunia Tuhan yang sedemikian besarnya akan mengikuti diri kita. Jangan kita menjadi lemah.  Hidup sebagai anak Tuhan bukanlah seperti roda yang berputar namun kehidupan yang semakin naik seperti yang dikatakan kehidupan dari kemuliaan kepada kemuliaan.  Anak Tuhan bukanlah ekor tetapi kepala.  Berkat yang Tuhan curahkan dalam diri kita tidak ada batasannya.  Berkat dari Tuhan harus diolah dengan benar dan bertanggung jawab atas berkat tersebut.  Jemaat Tuhan tidak akan hidup dalam kekurangan, sudah tidak ada lagi roh kemiskinan.

Dalam Hagai 1:12 bangsa Israel mendengar perkataan Tuhan sehingga kembali takut akan Tuhan.  Selanjutnya dalam Hagai 2:5,8-10 Tuhan yang mendatangkan dan menyediakan tidak ada ketakutan lagi tapi juga Tuhan yang bisa menahan berkat untuk kita. Jangan sampai ada yang tersembunyi dan jagalah diri kita untuk tetap kudus.  Jadilah terang dimanapun kita berada.  Kemudian dalam Hagai 2:19-20, waktu saudara kembali memperhatikan bait Tuhan yang kita miliki kita tidak akan mengalami penipuan dengan apa yang dunia tawarkan. Jangan sampai iman kita menjadi kandas, proses perjalanan kita di dalam Tuhan akan memperlihatkan bagaimana iman kita di dalam Tuhan.  Kita harus sadar apa yang saat ini menjadi prioritas dalam diri kita. harus Tuhan yang terutama dan pasti anak-anak Tuhan akan hidup dalam berkat-Nya.
Dalam 2 Korintus 6:16-18, 7:1 mari kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran rohani dan jasmani.  Selanjutnya dalam Matius 5:48, haruslah kita sempurna, sama seperti Bapa yang di sorga adalah sempurna. Dosa yang tersembunyi pasti akan terlihat maka kita perlu untuk takut dan gentar akan Tuhan untuk terus menjaga diri kita kudus dihadapan Tuhan.  Dengan hal itu kita dapat tegas dengan setiap dosa yang ditawarkan kepada kita. Orang dunia saat ini sedang mengejar kesia-siaan. Waktu kita hidup di dalam Tuhan jangan sampai kita takut akan berkat yang akan kita miliki. Kita sudah hidup dalam kepenuhan akan Tuhan. Sukacita damai sejahtera dan segala berkat dari Tuhan disediakan bagi kita anak-anak-Nya.


Kotbah: Silviana Lontoh
Jubilee Semarang

Friday, 24 July 2015

Hidup Dipimpin oleh Roh

Hidup Dipimpin oleh Roh

Betapa berharganya Yesus yang telah membuat kita dilahirkan kembali menjadi ciptaan yang baru dan memiliki kehidupan yang kekal.  Saudara, mari kita renungkan saat kita pergi berlibur, memang terasa memuaskan tetapi hanya sekedar puas secara daging namun itu sifatnya sementara lalu bagaimana jika kita bertobat dan dilahirkan kembali hanya memuaskan hal yang sifatnya sementara tanpa membangun suatu hal yang kekal di dalam Tuhan?  Mari kita mengingat kembali identitas kita sebagai orang yang sudah dilahirkan kembali sebagai ciptaan yang baru.  Ciptaan yang baru berbicara tentang sifat yang kuat dan yang memberi efek.  Hal ini bukan masalah usia yang tua dan muda tapi bagaimana pengejaran kita. Jangan sampai tertipu seakan-akan semuanya menjadi gampangan. Jangan melalaikan pertemuan ibadah karena apa yang kita kejar saat ini adalah pengejaran secara roh.  Daging akan selalu menuntut hal yang menyenangkan.  Hal yang membuat kita berbeda saat kita bertobat dan dilahirkan kembali karena ada kehidupan Roh di dalam diri kita.

Apakah yang saat ini sedang kita kejar?  Hal yang perlu kita kejar adalah yang dapat membangun kita dari dalam secara Roh. Iblis datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan, selama kita memberi kesempatan kepada si Iblis maka kita akan terus tercuri.  Betapa luar biasa saat raja-raja dalam kitab 2 Tawarikh, mereka memulai dengan luar biasa namun mengapa mereka mengakhiri dengan hidup kompromi? Mengapa Paulus geram kepada jemaat di Galatia?  Siapa yang sudah mempesona kita?  Maka jangan sampai kita mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya.  Kita sudah bukan dari dunia ini yang tidak mengejar apa yang dunia kejar.   Semua yang sedang berlangsung di dunia ini hanya sementara saja.
Dalam Galatia 3: 1 – 5 kita dipanggil bukan untuk menyenangkan manusia.  Kompromi merupakan hal yang akan menghancurkan panggilan kita di dalam Roh.  Betapa berharganya apa yang kita lihat. Kita harus terus melihat pengharapan setiap hari.  Hidup tidak berkekurangan adalah hidup yang dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Terus kejar panggilan Tuhan dalam hidup kita.  Kita tidak melakukan Roh perintahkan karena kita melakukan hukum.  Tidak ada yang bisa melakukan hukum karena hukum sudah gagal.  Saat para raja-raja mengandalkan Tuhan, Tuhan yang berperang bagi mereka. Ada pilihan setiap hari untuk memuaskan daging atau roh yang kita miliki. Kita menjadi ciptaaan yang baru berarti kita tidak pernah ada sebelumnya dan sekarang ada. Dalam Yehezkiel 36:26 tertulis bahwa kita sudah mendapat hati dan roh yang baru. Tidak ada yang dapat menjamin bagaimana hidup kita ke depan tanpa kita terus menjaganya tiap-tiap hari. Berbicara tentang salib adalah kemenangan yang gilang-gemilang di dalam Roh menjadi ciptaan yang baru. Tanpa kelahiran kembali ujung-ujungnya hanya kenyamanan diri sendiri yang pada akhirnya binasa.  Sejarah dimulai dalam diri kita sejak kita bertobat dan dilahirkan kembali.

Dasar yang kita miliki adalah Kristus dan di dalam jemaat Kristus alam maut tidak akan menguasai (Matius 16:17-18).  Berbicara tentang Kristus yang dimaksudkan adalah Ia sudah ada di dalam kandungan Maria sebelum ia menikah dengan Yusuf karena mengandung dari Roh Kudus (Matius 1:18).  Hal tersebut tidak dapat masuk ke dalam logika manusia seperti saat kita bertobat dan dilahirkan kembali sebenarnya tidak dapat masuk ke dalam akal sehat manusia. Yesus dilahirkan dari Roh dan bukan karena keinginan daging manusia. Seperti tertulis dalam Yohanes 1:12 bahwa Yesus lahir bukan karena keinginan laki-laki. Pintu alam maut tidak akan menguasai karena kita lahir di dalam Roh. Saat ini kita sedang hidup dalam kemah yang tidak abadi yang suatu saat nanti dapat diambil namun berbicara tentang Roh maka hal tersebut bersifat kekal. Selanjutnya dalam Matius 1:19-20, Yusuf bermaksud untuk menceraikan Maria secara diam-diam karena menurut akal sehatnya hal tersebut tidak masuk akal  kemudian malaikat Tuhan muncul dan mencegah maksud Yusuf. Malaikat tersebut mengatakan bahwa Yesus lahir dari Roh Kudus. Begitu juga dengan pertobatan dan kelahiran kembali. Kita dilahirkan kembali oleh Roh bukan karena program manusia.

Dalam keadaan saat ini banyak orang yang mengaku bahwa ia sudah dilahirkan kembali dan seolah-olah hal tersebut menjadi trend namun dari buahnyalah akan tampak mana yang berasal dari daging dan mana yang berasal dari Roh. Seperti ada tertulis banyak orang akan bernubuat dan melakukan mujizat demi nama Tuhan namun Tuhan mengatakan bahwa mereka adalah pembuat kejahatan karena mereka melakukannya karena daging.

Mengapa Tuhan mengatakan “enyahlah”? Karena daging tidak dapat diterima di dalam Kerajaan Tuhan.  Kemudian dalam Matius 1:21 kita harus tahu untuk maksud apa Yesus dilahirkan, kita harus tahu siapa identitas kita.  Jika kita lupa jati diri kita maka kita akan mudah sekali untuk kompromi dengan dosa.  Jangan bermain-main karena kita sudah ditebus dari cara hidup kita yang sia-sia.  Sedikit saja kita kompromi maka kehidupan kita di dalam Roh akan diambil.  Kita mendisiplinkan daging karena Roh yang ada di dalam diri kita lebih kuat sehingga daging bisa tunduk.

Kemudian dalam 1 Petrus 1: 1-11, bukan kita yang memilih diri kita sendiri namun kita dipilih berdasarkan rancangan-Nya. Kita dipilih dan dipisahkan supaya taat.  Hidup di dalam Roh adalah hidup yang berkelanjutan (continue).  Sekarang kita dapat melihat hidup yang penuh pengharapan, maka kita perlu untuk terus menjaganya dengan sungguh-sungguh.  Hal yang terpenting bukan lagi mengawali dengan hal yang bagus saja namun bagaimana saat kita hidup dengan orang-orang di dunia ini.  Apa yang kita terima adalah bagian yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar dan tidak dapat layu karena hal tersebut tersimpan di sorga bagi kita.  Kita hidup di dunia ini hanya sementara dan banyak orang mengejar habis-habisan hal  yang dapat binasa.  Tujuan dari iman kita dalah keselamatan jiwa kita.  Kepada orang-orang yang sudah menerima Tuhan dan bertobat lahir baru diberi karunia untuk mengerti tentang Kerajaan Tuhan.  Banyak hal yang akan Iblis lakukan untuk menghalangi pengenalan kita akan Tuhan. Pertobatan lahir baru yang kita alami sangat berharga dan jangan sampai kita buang begitu saja.

Saat kita membaca 2 Tawarikh 15 pembaharuan yang dilakukan oleh Raja Asa begitu luar biasa namun pada 2 Tawarikh 16: 7 - 10 hal yang luar biasa justru berbalik kepada kekalahan karena Asa mengambil tindakan yang bodoh dengan tidak lagi bersandar kepada Tuhan namun bersandar kepada Raja Aram yang diam di Damsyik.  Saat kita hidup dalam panggilan Tuhan jangan sampai kita berbalik kepada jalan dosa.  Selanjutnya dalam 2 Tawarikh 17 mengenai Raja Yosafat yang hidup menurut nenek moyangnya, Daud.  Namun pada 2 Tawarikh 19:1-3 saat Raja Yosafat bersekutu dengan Ahab dan kompormi dilakukan oleh Yosafat maka saat kita bertobat lahir baru kita harus membenci orang-orang yang mengikat kita secara emosional. Pada saat itu Tuhan murka terhadap Yosafat. Kemudian pada 2 Tawarikh 20:35 – 37, Yosafat bersekutu dengan Ahazia, orang yang fasik sehingga Yosafat menyimpang dari Tuhan. Sejarah yang ada mengingatkan kita untuk hidup di zaman sekarang ini.
Semua orang yang dipimpin Roh Tuhan disebut anak Tuhan. Bagaimana kita bisa terus konsisten? Dengan kita memberi diri kita untuk terus dipimpin oleh Roh Tuhan karena kita anak Tuhan. Tanpa kita dipimpin oleh Roh kita tidak dapat hidup bersama-sama dengan Tuhan. Kita adalah manusia Roh yang tinggal di dalam daging. Kita bukan manusia daging yang tinggal di dalam Roh karena daging tidak bisa tinggal di dalam Roh, itu adalah alasan. Contoh yang luar biasa ketika kita melihat Yesus mati di kayu salib sampai selesai.

Khotbah: Heru Cristanto
Jubilee Purwokerto

Tuesday, 21 July 2015

Kelahiran Kembali

Kelahiran Kembali

Kita pasti akan bersukacita ketika ada orang yang bertobat dilahirkan kembali. Sukacita yang luar biasa kita alami ketika Jonathan bertobat dilahirkan kembali.   Kita tidak pernah tahu kapan orang yang kita beritakan Injil itu bertobat hanya Anugerah Tuhan yang dapat membuat orang itu sadar akan dosa-dosanya dan bertobat.    Seseorang tidak akan bisa bertobat jika ia tidak sadar akan dosa-dosanya bahkan perbuatan baik sekalipun tidak bisa menyelamatkan seseorang dari dosa dan maut.

Untuk ikut Tuhan, tidak ada suatu yang instan.   Setelah dilahirkan kembali pasti ada tantangan, tetapi kita tidak perlu takut karena kita ada di dalam tubuh Kristus. Di luar dari tubuh Kristus, kita tidak bisa berbuat apa-apa.  Marilah kita menjadi tubuh Kristus yang hidup.
“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang  malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: "Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!", (Pengkhotbah 12 :1).   Masa muda kita di dalam Tuhan penuh dengan sukacita.   Pada masa muda kita, jangan kita lupa kepada siapa yang menciptakan kita.  Masa muda kita di dalam Tuhan sungguh luar biasa dibandingkan di luar Tuhan.    Waktu kita melupakan masa-masa kita bersama Tuhan, kita akan kembali kepada kesenangan dunia yang sementara ini.  Kita adalah orang-orang yang hidup dalam Kerajaan Tuhan.   Kesenangan kita bukan dunia lagi.

Suatu hal yang mustahil bagi manusia untuk hidup tidak berdosa, tetapi jika seseorang yang lahir dari Tuhan tidak akan berdosa lagi. Yesus  ketika menjadi manusia, ia tidak berdosa. Ia hanya taat melakukan kehendak Tuhan.  Hal itulah yang kita alami ketika kita dilahirkan kembali, bahwa kita tidak berdosa lagi,  Mari kita melihat hidup kita, apakah kita sudah dilahirkan kembali, jika belum dilahirkan kembali,  tidak heran kita tidak akan pernah lepas dari dosa.     Orang  yang sudah bertobat lahir barupun bisa kembali jatuh dalam dosa.  Dosa kembali karena saudara sudah berpikir akan berdosa lagi dan lupa bahwa awalnya kita adalah anak Tuhan. Selain itu kita juga harus mengerti siapa kita di dalam Tuhan.    Dalam Yohanes 12, Tuhan katakan kita akan menjadi lebih luar biasa jika Roh Kudus ada di dalam kita.  Jonathan juga harus dipenuhi oleh Roh Kudus karena Roh Kuduslah yang membuat kita bisa melakukan kehendak Tuhan.  “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”  (Yehezkiel 36:26)  Tuhan akan memberikan hati yang baru dan Roh yang baru.   Hanya Tuhan yang bisa memberikan hati yang baru. Sebuah pendingin ruangan yang tidak dingin lagi, kita bisa menambahkan Freon atau diservice.  Berbeda dengan hati manusia, hati yang sudah berdosa tidak bisa diperbaiki.   Doa atau pelayanan manusia tidak bisa memperbaiki hati manusia yang rusak.    Kita harus dilahirkan kembali.   Tuhan akan memberikan hati dan roh yang baru dan juga Tuhan jauhkan hati yang keras yang dahulu roh kita mati hubungannya dengan Tuhan, Tuhan berikan roh yang baru supaya kita bisa berhubungan dengan Tuhan.  Roh manusia sebelum lahir baru hanya bisa berhubungan dengan si Iblis.   Kita tidak bisa membuat hati kita taat kepada Tuhan jika bukan Tuhan sendiri berikan hati yang taat itu. Ketaatan itu berasal dari Tuhan.    Jangan sombong dengan ketaatan kita.   Ketaatan bisa saja hanya tampak luar saja tetapi di dalam hati kita memberontak. Ketaatan yang lebih dari taat disebut setia. Tanpa disuruh kita melakukan dengan segenap hati dan tanpa bersungut-sungut.  

“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.  Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.“ (Amsal 4:20-23).   Kehidupan terpancar ketika kita dilahirkan kembali.    Kita akan menjadi terang dan garam bagi dunia ini. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5 :13).   Waktu seorang dilahirkan kembali, yang dilakukan orang setelah itu adalah bersaksi bahwa hidupnya berubah.

 “Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan Sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus” (Ibrani 3:1). Yesus bukan hanya disebut sebagai Rasul tetapi juga sebagai Imam dan Yesus juga dikuduskan untuk suatu pekerjaan yang besar dari Bapa.   Kita berada di dalam kerasulan, kita juga adalah imam-imam yang juga melakukan pekerjaan Tuhan.  Bangsa Israel juga hanya mengikuti apa yang Tuhan katakan. Bila mereka mengurangi atau menambahkan apa yang Tuhan katakan, mereka akan mati. 1 Tawarikh 14:1 berbicara tentang peneguhan atau konfirmasi yang Daud alami. Bahwa dirinya adalah raja atas Israel. Semua kehidupan ini diatur oleh Tuhan.  Tuhan semakin meneguhkan panggilan-Nya pada setiap kita. Tuhan memakai siapa saja untuk semakin meneguhkan kita. Lalu pada 1 Tawarikh 14: 9-10,  Daud bergaul karib dengan Tuhan, tanda ia bergaul karib dengan Tuhan, ia selalu bertanya kepada Tuhan apa yang harus ia lakukan.  Daud hanya taat kepada Tuhan.  Kesenangan Daud adalah mendengar suara Tuhan. Daud melakukan kehendak Tuhan pada jamannya, bagaimana dengan kita sekarang.  Tuhan senang bersekutu.  Ia ingin umat-Nya mendekat kepada-Nya. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama – selamanya.” (Yohanes 14: 15-16), segala perintah Tuhan bagi orang yang belum mengenal Tuhan adalah suatu ketakutan,  tetapi bagi orang–orang yang sudah di dalam Tuhan adalah suatu kesukaan.   Kelahiran kembali yang membuat kita bisa mengasihi Tuhan dan melakukan segala perintah-Nya.  Dia akan memberikan kita penolong yang membuat kita bisa melakukan perintah Tuhan.   Kita bukan hanya orang yang dikasihi Tuhan, tetapi kita bisa mengasihi Tuhan melalui Roh Kudus.
Dalam Ulangan 8:1-3 bersyukur atas segala kebaikan Tuhan.   Mari kita mengerti bahwa manusia bukan hidup dari apa yang disediakan dari dunia ini tetapi dari segala Firman Tuhan.   Hidup kita akan menjadi saksi jika kita menerima Roh Kudus.  Itulah yang menjadi kekuatan kita, Beberapa hari yang lalu, dalam Ibadah penghiburan, Darwin mendapat kesempatan untuk berkotbah.   Pemberitaan Injilpun disampaikan kepada setiap yang hadir pada pertemuan itu.  tidak hanya agama Kristen yang hadir bahkan dari agama muslim datang pada pertemuan itu.   Darwin percaya bahwa pertemuan itu tidak sia-sia, Mereka harus menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Lahir sebagai agama Kristen tidak akan menyelamatkan.  tidak ada jalan lain kecuali di dalam Kristus.  Dalam Yehezkiel 36:26 kita sudah diberikan Roh dan hati yang baru. Sukacita kita dapatkan ketika kita melakukan perintah Tuhan.

Tidak terasa satu minggu setelah conference, banyak hal yang luar biasa kita dapatkan dan setelah itupun kita harus terus lakukan, jangan sampai berhenti.  Mari kita terus memberitakan Injil bagaimana kita dilahirkan kembali, kita menang atas dosa.  Bersaksi bahwa kita telah terlepas dari dosa. Iblis sudah dikalahkan. Kita adalah orang-orang yang menang.  Kita dipanggil menjadi terang dan garam dunia.

Khotbah: Darwin Egan Lontoh
Jubilee Indonesia